NOSTALGIA BANDUNG 90-AN DAN MISTERI HURUF N PERMEN YOSAN

NOSTALGIA BANDUNG 90-AN DAN MISTERI HURUF N PERMEN YOSAN

Romantika Dingin dan Asap Knalpot yang (Belum) Berdosa

Selamat datang di Bandung tahun 90-an, sebuah zaman purbakala di mana AC adalah barang mewah yang tidak berguna karena udara pagi sanggup membuat bibir Anda biru tanpa perlu bantuan filter Instagram. Mandi pagi di masa itu bukan sekadar aktivitas kebersihan, melainkan uji nyali tingkat tinggi yang setara dengan latihan militer; sebuah pengkhianatan terhadap kenyamanan kasur yang hanya bisa dikalahkan oleh suara radio yang memutar lagu qasidahan atau sapaan penyiar yang sok akrab. Jalanan Dago masih begitu lapang, cukup luas untuk membuat Anda merasa seperti pemilik kota, sangat kontras dengan masa kini di mana aspalnya lebih sering berfungsi sebagai lahan parkir raksasa bagi plat B saat akhir pekan.

Era ini adalah masa kejayaan Cihampelas, sebelum ia berubah menjadi labirin beton yang membingungkan. Dulu, Anda belum dianggap gaul kalau belum berpose di bawah patung Batman atau Rambo raksasa yang menempel di atap toko jeans dengan proporsi tubuh yang agak meragukan secara anatomis. Estetika kota saat itu memang cukup ajaib: perpaduan antara rumah kolonial yang anggun dengan selera dekorasi pahlawan super Amerika yang dipaksakan. Tapi setidaknya, saat itu kita masih bisa berjalan kaki tanpa harus adu otot dengan pengendara motor yang hobi naik ke trotoar seolah sedang ikut kompetisi off-road di tengah kota.

Bicara soal musik, GOR Saparua adalah pusat semesta di mana keringat dan distorsi gitar dianggap sebagai parfum paling berkelas. Anak muda Bandung zaman itu punya dedikasi luar biasa; mereka rela mengantri di toko kaset Aquarius Dago hanya untuk membeli rilisan fisik yang pita kasetnya hobi kusut di dalam walkman. Tidak ada playlist Spotify yang algoritmanya sok tahu; pilihannya hanya dua: mendengarkan lagu sampai bosan atau memutar pita kaset pakai pensil manual demi menghemat baterai ABC. Sebuah ritual kesabaran yang sayangnya kini punah digantikan oleh budaya skip lagu dalam hitungan detik.

CATATAN PERDANA KE CURUG CIBAREUBEUY

TOKOH SUNDA TERLUPA

TAPI IMPLEMENTASI MASIH SULIT

KENANGAN KAMI (DAN BANDUNG)

Interaksi sosial di tahun 90-an juga jauh lebih jujur karena belum ada gangguan notifikasi grup WhatsApp keluarga yang hobi menyebar hoaks kesehatan. Kalau mau nongkrong, ya harus datang secara fisik ke warung kopi atau teras kost; tidak bisa sekadar kirim emoji jempol di layar. Persahabatan diuji oleh kemampuan mengobrol berjam-jam tanpa sekalipun menunduk menatap telapak tangan. Saat itu, "koneksi" artinya benar-benar duduk berhadapan sambil berbagi sebatang rokok dan sepiring gorengan dingin, bukan tentang berapa baris sinyal 4G yang Anda dapatkan di pojokan kafe.

Kuliner masa itu pun sangat sederhana dan belum terjamah oleh obsesi "estetika konten". Kita makan bubur ayam atau batagor karena memang lapar, bukan karena ingin memotretnya dari sudut 45 derajat demi validasi orang asing. Jajanan seperti Mie Anak Mas atau permen karet Yosan—dengan huruf 'N' yang lebih langka dari badak bercula satu—adalah puncak kebahagiaan yang hakiki. Sungguh masa yang luar biasa, di mana satu-satunya kemacetan yang kita khawatirkan hanyalah kemacetan pita kaset, dan satu-satunya polusi udara yang mengganggu hanyalah asap knalpot angkot hijau yang sopirnya merasa sedang balapan di sirkuit F1.

Foto oleh Firall Ar Dunda di Unsplash

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama