Desa Cibeusi masuk ke wilayah Kabupaten Subang, sementara tempat air terjun Cibareubeuy berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat. infonya dari ibu warung dalam perjalanan ke lokasi air terjun seperti itu. Dan saya mungkin paling telat absen berkunjung ke tempat ini dibanding yang lain. tiga kilometer jaraknya dari tempat memarkirkan motor. Jalanan landai, tidak ada tanjakan yang "judes" ke lutut.
Rencana awal adalah sebuah puisi tentang kedisiplinan: jam setengah delapan pagi harus sudah mencium aroma air terjun. Namun realita adalah prosa yang berantakan; jam setengah sembilan saya baru memanaskan mesin. Selisih satu jam bagi penganut aliran prokrastinasi akut seperti saya bukanlah sebuah dosa, melainkan pencapaian luar biasa yang layak dirayakan dengan satu cangkir kopi tambahan di teras rumah.
Penyambutan hangat datang dari Lembang, tepatnya di depan pabrik Otto. Sebuah pawai akamsi sepanjang 500 meter tersaji eksklusif, memaksa kendaraan merayap seperti siput yang sedang pening setelah pesta lemper. Saya hanya bisa pasrah, sesekali menekan klakson tanpa harapan, seolah suara bising itu bisa membelah lautan manusia yang sedang merayakan eksistensi di jalan raya dengan kostum-kostum ajaibnya.
Begitu lolos ke alun-alun Lembang, Google Maps resmi menjadi nabi digital saya. Sebagai pendatang baru di rute Curug Cibareubeuy, saya sudah memantapkan hati: jika algoritma ini membawa saya nyasar ke Purwakarta atau Cirebon sekalian, saya akan mengikutinya dengan takzim. Dalam petualangan ini, tidak ada opsi efisiensi; yang ada hanyalah penyerahan diri total pada sinyal GPS yang kadang labil di bawah rimbunnya pepohonan Subang.
Saya akhirnya mencicipi jalanan yang katanya "Mandalika-nya Jawa Barat". Jujur saja, aura sirkuitnya hanya ada di brosur imajinasi, tapi aspal yang rapi cukup menjadi pelipur lara bagi mata yang lelah. Di tugu perbatasan, saya melihat ritual manusia modern: berhenti, jajan cuankie, dan berfoto di depan pemandangan perbukitan yang membentang luas menampakkan kota di kejauhan. Saya singgah sebentar, sekadar menghargai upaya pemerintah daerah membangun spot foto yang "Instagrammable" tapi sedikit maksa itu.
Belok kanan dari jalan utama, rute legendaris menuju Desa Cibeusi pun dimulai. Melewati papan penunjuk Curug Dayang Sumbi dan Curug Biru, saya berkendara santai selama 30 menit hingga tiba di parkiran yang luasnya bisa menampung ego para pengendara moge. Karang taruna di sini sungguh visioner; mereka membiarkan saya parkir tanpa menagih di depan—sebuah tindakan penuh kepercayaan yang jarang ditemukan di kota besar, di mana napas saja seolah ada tarifnya.
Langkah kaki pertama dimulai dengan menyusuri jalan paving blok di samping sungai kecil. Ada pemandangan menarik bin ajaib: pipa-pipa PVC kecil milik warga yang mendistribusikan air bersih gratis seumur hidup dari gunung. Alam seolah sedang pamer kekayaan dengan sombongnya, sementara anak-anak desa asyik berenang di kolam alami, menertawakan orang kota yang harus bayar mahal demi satu jam di kolam renang yang airnya lebih banyak kaporit daripada mineralnya.
Matahari jam sepuluh pagi mulai menunjukkan taringnya, membakar kulit yang tidak diproteksi oleh apa pun. Saya melangkah tanpa persiapan—tanpa trekking pole, tanpa flysheet, bahkan tanpa sarapan yang layak. Temanya adalah "jalan-jalan santai", bukan ekspedisi menaklukkan Everest. Modal saya hanya tas pinggang berisi dompet dan HP, serta rasa percaya diri yang berlebihan pada keberadaan warung-warung logistik yang katanya bertebaran di sepanjang jalur.
Di sinilah puitisme alam dimulai: rumah sederhana khas Bandung tahun 80-an yang terjebak waktu, suara serangga dari rimbun bambu, dan kerbau-kerbau yang duduk tenang di tengah sawah seolah sedang bermeditasi memikirkan harga pakan. Ada pengrajin gula merah yang sibuk dengan kepulan asapnya, serta tawaran minuman lahang yang segarnya bisa membuatmu lupa cicilan motor. Dunia di sini berjalan pelan, berbanding terbalik dengan detak jantung saya yang mulai berpacu karena rute menanjak yang tak ada di brosur.
Setiap jembatan bambu yang saya lewati berderit halus, memberikan sensasi goyangan yang menguji mental halus para wisatawan kota. Setelah 45 menit berjalan dengan napas yang mulai tersengal dan baju yang basah kuyup oleh keringat, kami baru sadar bahwa perut masih kosong melompong. Ingatan tentang gorengan tadi pagi mendadak jadi sangat melankolis. Sebelum mencapai Kampung Senyum, kami memutuskan berhenti, menyerah pada kursi bambu warung penduduk demi menyambung nyawa.
Setelah istirahat lebih dari 30 menit, Curug Cibareubeuy setinggi 80 meter itu akhirnya menampakkan diri. Megah, rimbun, berdiri di ketinggian 1.000 mdpl seperti penguasa yang tak tersentuh. Namun, karena saya tidak suka berebut oksigen dengan kerumunan pengunjung yang sedang berpose "aesthetic", saya cukup duduk selonjoran dari jarak aman. Menatap air terjun dari kejauhan ternyata jauh lebih puitis daripada harus mengantre demi satu foto di kakinya yang penuh sesak.
Dua jam saya habiskan untuk sekadar diam dan memastikan stok status WhatsApp aman terkendali. Tidak ada niat mendekati kaki air terjun yang penuh orang; akses turunnya butuh tenaga ekstra yang sudah habis saya gunakan untuk membayangkan menu makan siang. Saya pulang lebih awal dengan alasan klakson klasik: tidak mau pulang kemalaman. Alam mungkin indah dan damai, tapi jalanan Lembang saat gelap adalah mimpi buruk yang ingin saya hindari dengan segala cara.
Perjalanan pulang adalah penutup yang sempurna. Mendekati parkiran, saya menemukan "pahlawan" yang sesungguhnya: bakso sebesar bola tenis. Kami makan dengan keseriusan tingkat tinggi, membalas kekecewaan karena gagal makan nasi liwet di Kampung Senyum. Pulang melewati Dagogiri dan gedung kosong mirip paru-paru kembar, saya tiba di rumah jam lima sore. Total 128 foto tersimpan, namun yang paling saya ingat tetaplah si kerbau yang tidak peduli pada panas dunia dan bakso bola tenis yang menyelamatkan martabat lambung saya.