Postingan

NARSISME INTELEKTUAL, MENGHANGATKAN DUNIA LALU SEMBUNYI

Gambar
  Dunia maya kita hari ini adalah panggung sandiwara paling lucu, tempat para "pejuang keadilan sosial" alias social warrior nangkring dengan kosa kata yang dipoles sedemikian rupa agar terlihat intelek. Mereka bicara soal kemanusiaan, progresivitas, dan perubahan besar dengan nada yang menggebu-gebu, seolah-olah dunia bakal kiamat kalau tulisan mereka tidak dibaca. Permainan katanya ciamik, retorikanya kelas tinggi, dan keyakinannya? Jangan ditanya. Sudah setebal tembok Berlin. Mereka merasa sedang mempersembahkan sebuah mahakarya pemikiran yang harusnya masuk museum, bukan sekadar lewat di timeline yang fana ini. Tapi, ada satu anomali yang menggelitik. Setelah melempar " bom " opini yang katanya paling benar sedunia, mereka langsung buru-buru menutup pintu. Ya, kolom komentar dibatasi atau malah dimatikan total. Takut? Mungkin. Atau mereka hanya merasa bahwa pikiran "suci" mereka tidak boleh dinodai oleh komentar orang-orang biasa yang dianggap tidak se...

BERHENTI MENJADI "SI PALING KORBAN" SEBELUM SEMUA ORANG MENUTUP PINTU

Gambar
Berhenti memancing rasa iba adalah bentuk pertolongan pertama pada harga dirimu yang sudah sekarat. Kita harus jujur: tidak ada yang lebih membosankan daripada mendengarkan kaset rusak berisi keluhan yang sama selama bertahun-tahun. Awalnya, orang mungkin akan menepuk bahumu dengan empati yang tulus. Namun, jika setiap interaksi selalu kamu jadikan panggung untuk memamerkan luka, empati itu akan menguap dan berubah jadi iritasi. Kamu pikir kamu sedang membangun jembatan emosional, padahal kamu sedang membangun tembok yang membuat orang lain ingin segera melarikan diri. Kasihan itu ada kedaluwarsanya. Orang punya batas kuota untuk peduli pada masalah orang lain, terutama jika si pemilik masalah terlihat sangat menikmati penderitaannya. Saat kamu terus-menerus menjual kemalangan, kamu sebenarnya sedang menurunkan nilai tawarmu sebagai manusia. Kamu menjadi sosok yang " melelahkan " untuk diajak bicara. Dan percayalah, di dunia yang sudah cukup berat ini, tidak ada orang yang ma...

MANAJEMEN LIMBAH PIKIRAN, MENGAPA MARAH ITU TERLALU MURAHAN

Gambar
Dunia ini sudah terlalu bising dengan orang-orang yang merasa perasaannya adalah pusat semesta. Kalau saya memilih untuk tidak ikut dalam sirkus emosional kalian, itu bukan berarti saya jahat—saya hanya sedang melakukan manajemen limbah pikiran. Menjaga hati dan pikiran agar tetap fokus di tengah gempuran drama itu seperti mencoba meditasi di tengah konser musik metal; sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Jika ketenangan saya harus dibayar dengan label "kasar" dari mulut kalian, silakan saja. Saya lebih suka dianggap batu daripada jadi spons yang menyerap semua sampah emosi yang kalian lempar sembarangan. Memangnya siapa yang punya waktu untuk kecewa berkali-kali? Kecewa itu melelahkan, menguras energi, dan yang paling parah: tidak menghasilkan uang. Kita seringkali terlalu baik hati membiarkan orang lain menyewa ruang di kepala kita tanpa membayar sepeser pun. Padahal, pikiran ini adalah properti eksklusif, bukan panti sosial untuk segala macam keluhan receh. Friedrich N...