PRIMETIME DRAMA-CEPTION
Kita hidup di era di mana batasan antara krisi nyata dan akting demi validasi seudah separah filter instagram yang mengaburkan pori-pori. Di kantor terjebak dalam intrik yang lebih sengit dari Game Of Thrones , sementara di rumah tidak ada metafora yang tepat untuk menggambarkan suasana. Salah bicara menjadi pihak yang bersalah. Kita lelah bukan karena pekerjaannya, tapi karena haru sterus menerus mengkurasi reaksi wajah agar sesuai dengan espektasi drama yang sedang diputar. Drama kantor biasanya punya pola terbaca, ada yang melempar issue masalah dan kemudian serta merta mendadak menjadi tim problem solver. Atau atasan membuat urgensi palsu, seolah sebuah komet akan menabrak bumi jika revisi penawaran harga tidak segera dikirim dalam 20 menit ke depan. Selanjutnya, saat kita pulang ke rumah seolah kita pulang mencari suaka, kita justru disambut oleh "session ke-2" . Rasa bersalah diproduksi massal seperti barang pabrikan, kita dibuat merasa berdosa hanya karena bernafas ter...