Postingan

Pelajaran Diplomasi Digital dari Perang 'Kecoa' dan 'SEAblings'

Gambar
Bahwa cara terbaik untuk membuat seorang rasis merasa " kecil " bukanlah dengan membalasnya pakai kata-kata kasar, melainkan dengan membuat sebuah konten yang sangat keren sampai-sampai mereka merasa minder karena tidak punya bakat yang sama? Di tengah bisingnya perang komentar, ada sekelompok netizen ASEAN yang memilih jalur " jalan ninja ": alih-alih mengetik hujatan yang hanya bikin tensi naik, mereka justru memproduksi edit video kelas dunia, ilustrasi yang memukau, hingga parodi satir yang bikin lawan bicara kena mental tanpa merasa dihina. Ini adalah bentuk perlawanan tingkat tinggi; saat mereka sibuk dengan kebencian kuno, kita sudah sibuk dengan rendering konten masa depan. Cara Netizen ASEAN Bikin Konten Kreatif Tanpa Ujaran Kebencian, Anti Mainstream!  Kita bedah fenomena " balas dendam kreatif " ini. Kita melihat bagaimana netizen dari Indonesia hingga Filipina mulai menggunakan tren fan-edit atau POV (Point of View) yang sangat lokal namun dike...

Flash Sale atau Flash Sad? Panduan Bertahan Hidup di Hutan Belantara Marketplace

Gambar
Apakah kita sebagai manusia modern memang sudah kehilangan kemampuan logika dasar, ataukah tombol " Beli Sekarang " punya kekuatan hipnotis setara pesulap jalanan? Kita seringkali merasa lebih pintar dari algoritma, sampai akhirnya paket datang dan isinya lebih mirip properti rumah boneka daripada barang yang kita pesan. Membeli barang dengan harga sepersepuluh dari harga pasar itu bukan "keberuntungan", kawan. Itu adalah undangan terbuka bagi semesta untuk menertawakan kenaifan kita. Seni Menipu Diri Sendiri: Mengapa Kita Percaya iPhone Harga Seblak itu Asli? Masalahnya, kita seringkali malas menjadi detektif digital. Kita melihat gambar yang estetik—hasil curian dari Pinterest—lalu mengabaikan suara kecil di otak yang bertanya, " Kenapa jaket kulit ini lebih murah dari biaya parkir seharian di mall ?" Padahal, kolom testimoni adalah tambang emas kebenaran kalau kita mau sedikit repot menggulir ke bawah. Carilah ulasan yang menyertakan foto asli; jika di ...

Panggung Sandiwara Sang Dermawan Selektif

Gambar
  Pernahkah kalian melihat seseorang yang mendadak punya sayap malaikat dan bercahaya saat berada di lingkungan baru, padahal di rumah sendiri ia bahkan tidak tahu cara menawarkan segelas air? Rasanya seperti menonton pertunjukan teater buruk di mana aktor utamanya begitu sibuk memoles citra sebagai " pahlawan masyarakat " demi tepuk tangan orang asing, sementara orang-orang yang selama ini menopang hidupnya dibiarkan kelaparan—baik secara fisik maupun emosional. Ada kepuasan instan yang memuakkan saat seseorang merasa " bernilai " hanya karena berhasil mengecoh mata orang baru, sebuah ego yang membengkak hanya karena pujian murah dari mereka yang sebenarnya cuma sedang memanfaatkan momen. Seni Menjadi Pahlawan Palsu: Cara Cepat Dipuji Orang yang Tidak Mengenal Anda Fenomena ini adalah bentuk narsisme yang dibalut jubah kebajikan. Kita hidup di era di mana " terlihat baik " seringkali dianggap lebih penting daripada " menjadi baik ". Si pahlawan ...