Seni Merasa Berdosa: Mengapa Kita Takut Rehat Tanpa Notifikasi?
Kita semua pasti punya satu teman (atau mungkin itu Anda sendiri) yang merasa berdosa kalau duduk diam selama lima menit tanpa membuka aplikasi to-do list. Di dunia yang memuja kesibukan ini, "istirahat" sering kali dianggap sebagai kegagalan sistem, bukan kebutuhan biologis. Kita terjebak dalam perlombaan lari di tempat, di mana medali emasnya adalah lingkaran hitam di bawah mata dan status WhatsApp yang bunyinya: " Work hard, play later "—padahal " later "-nya tidak pernah datang karena kita terlalu sibuk membalas email jam dua pagi. Coba perhatikan tren hustle culture di media sosial. Orang-orang bangga memamerkan kopi kelima mereka sebelum jam makan siang seolah-olah kafein adalah bahan bakar roket menuju kesuksesan abadi. Padahal, sering kali kita hanya melakukan performative work ; sibuk terlihat sibuk demi validasi algoritma, sementara fokus utama kita sebenarnya sudah menguap sejak notifikasi diskon belanja online muncul di layar. Analoginya sepe...