SELAMAT TINGGAL TANAH KAKEK BUYUT
Tanah itu bukan sekadar hamparan debu dan ilalang. Bagi kita, itu adalah DNA yang membeku di bawah lapisan aspal dan ego korporasi. Lima generasi kita hidup dalam romantisme kepemilikan, memeluk memori tentang kakek buyut yang menanam pohon nangka di sana, sementara di atas kertas legalitas, nama kita hanyalah hantu. Pihak swasta datang dengan senyum rapi dan sertifikat yang lebih mengilat dari masa depan kita. Menyedihkan, ya? Bagaimana selembar kertas yang dicetak kemarin sore bisa menghapus keringat ratusan tahun hanya karena orang tua kita dulu lebih percaya pada jabat tangan daripada stempel notaris. Maka mulailah ritual sia-sia itu: mengais surat usang yang sudah dimakan rayap di lemari tua. Kita mencoba mengetuk pintu-pintu kekuasaan, berharap ada sedikit nurani di balik seragam-seragam kaku itu. Tapi kenyataannya? Kita justru disambut oleh simfoni birokrasi yang sengaja dibuat sumbang. Oknum pejabat melempar tanggung jawab seperti bola pingpong, aparat bicara tentang prosedur y...