Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout
Bahwa detak jantung kalian sebenarnya bukan memompa darah, melainkan menghitung mundur deadline ? Kita hidup di era di mana " istirahat dengan tenang " hanya dianggap valid jika status di Slack atau Teams sudah berubah menjadi offline permanen. Entah sejak kapan, memaksakan diri hingga titik darah penghabisan berubah dari sebuah tragedi menjadi sebuah medali kehormatan yang kita pamerkan di bio media sosial. Seni Menghamba pada Jam Pasir: Ketika Tanggung Jawab Menjadi Agama Baru Dedikasi tanpa henti itu seperti mencoba menguras samudra dengan sendok teh; melelahkan, sia-sia, tapi entah kenapa terlihat heroik di mata atasan. Kita seringkali terjebak dalam delusi bahwa dunia akan runtuh jika kita mengambil cuti sehari untuk sekadar bernapas tanpa bayang-bayang revisi. Fenomena " Hingga Detik Terakhir" ini menciptakan kasta baru dalam masyarakat: manusia-manusia yang lebih takut baterai laptopnya habis daripada sisa umurnya sendiri. Kita berkompetisi untuk menjadi ya...