Postingan

JADWAL PERANG TERTUNDA KARENA ANTREAN PIPIS

Gambar
Pernahkah kalian membayangkan skenario kiamat di mana tombol nuklir gagal ditekan hanya karena sang operator sedang berkeringat dingin menahan mules di depan pintu toilet yang terkunci? Selamat datang di realitas USS Gerald R. Ford, kapal induk termahal dalam sejarah umat manusia, yang ternyata memiliki kelemahan setingkat kos-kosan murah: sistem drainase yang lebih rapuh daripada janji kampanye politisi.  Bayangkan, kita sedang bicara tentang mesin perang senilai $13 miliar yang dirancang untuk mengintimidasi negara lain, namun saat ini justru sedang diintimidasi oleh penumpukan kalsium dan kaos kaki yang nyangkut di pipa vakum. Masalahnya bukan sekadar " toilet rusak ", tapi bagaimana ambisi teknologi tinggi seringkali lupa pada kebutuhan paling dasar manusia. Para perencana desain kapal ini sepertinya terlalu sibuk menghitung aerodinamika jet tempur sampai lupa menghitung rasio lubang toilet untuk 4.600 pelaut. Hasilnya? Antrean 45 menit setiap hari. Di dunia di mana kita ...

SAAT BURU JUARA TERLALU MANJA UNTUK PULANG KAMPUNG

Gambar
Kata favorite pada kolektor: " Penangkaran ", terdengar mulai, seolah kita sedang membantu bahtera Nabi Nuh modern untuk menyelamatkan Murai Batu dari kiamat ekologi. Tapi mari kita jujur sejenak dibalik kepulan asap rokok: apakah kita benar-benar sedang menangkarkan mereka untuk alam atau kita kita sebenarnya sedang membangun " pabrik " pencetak uang yang kebetulan bisa berkicau? Kita sedang menciptakan populasi burung yang sangat mahir meniru suara ciliin dan kenari. Paradoksnya begini; kita mengklaim telah berhasil " melestarikan " Murai Batu karena jumlahnya di kandang dalam rumah beton kita membludak. Namun coba tanya kepada para pemilik penangkaran itu, berapa banyak dari hasil ternakan mereka yang sudah " mudik " ke hutan?   Jawabannya biasanya adalah keheningan yang lebih sunyi daripada hutan yang sudah gundul.   Melepasliarkan burung hasil tangkaran yang harganya puluhan juta itu dianggap sebagai " pemborosan ekonomi " yang ti...

PRIMETIME DRAMA-CEPTION

Gambar
Kita hidup di era di mana batasan antara krisi nyata dan akting demi validasi seudah separah filter instagram yang mengaburkan pori-pori. Di kantor terjebak dalam intrik yang lebih sengit dari Game Of Thrones , sementara di rumah tidak ada metafora yang tepat untuk menggambarkan suasana. Salah bicara menjadi pihak yang bersalah. Kita lelah bukan karena pekerjaannya, tapi karena haru sterus menerus mengkurasi reaksi wajah agar sesuai dengan espektasi drama yang sedang diputar. Drama kantor biasanya punya pola terbaca, ada yang melempar issue masalah dan kemudian serta merta mendadak menjadi tim problem solver. Atau atasan membuat urgensi palsu, seolah sebuah komet akan menabrak bumi jika revisi penawaran harga tidak segera dikirim dalam 20 menit ke depan. Selanjutnya, saat kita pulang ke rumah seolah kita pulang mencari suaka, kita justru disambut oleh "session ke-2" . Rasa bersalah diproduksi massal seperti barang pabrikan, kita dibuat merasa berdosa hanya karena bernafas ter...