Postingan

WAHANA ROLLER COASTER HORMONAL

Gambar
Suatu hari, kalian bangun tidur dan merasa bahwa suara sendok yang beradu dengan piring adalah sebuah pernyataan perang? tidak ada alasan logis. Tidak ada pemicu besar. Tapi hari itu, kalian adalah bom waktu yang berjalan dengan sumbu pendek yang sudah terbakar setengahnya. Kalian marah pada lampu merah yang terlalu lama, kalian marah pada aplikasi yang loading, bahkan mungkin kalian marah pada oksigen karena rasanya terlalu tipis. Namun, sebelum bom itu meledak, tiba-tiba -nyut!- semuanya berubah menjadi rasa sedih yang begitu kolosal, seolah kalian adalah satu-satunya manusia yang tertinggal di bumi setelah kiamat kecil terjadi di dalam kepala kalian. Glitch emosional; ketika dunia terasa seperti musuh dalam selimut. Fenomena " marah-marah tanpa sebab " ini sebenarnya adalah cara elegan otak kita untuk bilang " saya capek, tapi saya engga tahu cara ngomongnya " Kita sering menyebutnya sebagai sensitivitas, tapi sejujurnya, ini lebih mirip seperti software yang se...

Gengsi Setinggi Langit, Skill Setipis Tisu

Gambar
  Pura-Pura Mandiri Adalah Jalan Ninja Menuju Jalan Buntu.  Suatu waktu kalian didatangi teman yang tiba-tiba bertanya tentang struktur molekul kafein padahal dia cuma admin toko kelontong? Atau mendadak sok filosofis menanyakan " menurutmu, apakah algoritma itu bersifat deterministik ?" padahal sebenarnya dia cuma bingung cara log in ke akun emailnya sendiri? Kita semua tahu kode itu. Itu bukan rasa ingin tahu intelektual; itu adalah sinyal SOS dari seseorang yang kapalnya sedang bocor, tapi merasa terlalu keren untuk memakai pelampung yang kita sodorkan. Mengapa Meminta Maaf Lebih Mudah daripada Mengakui Kalau Kamu Nggak Tahu Cara Pakai Excel? Fenomena " Gengsi-Preneur " ini memang unik. Mereka tidak akan pernah bilang, "Bro, tolong ajarin gue ini dong," karena itu akan merusak citra mereka sebagai manusia serba tahu yang mereka bangun di Instagram. Sebaliknya, mereka akan melemparkan pertanyaan umpan yang tidak masuk akal, berharap kita—dengan keajaiba...

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Gambar
Bahwa detak jantung kalian sebenarnya bukan memompa darah, melainkan menghitung mundur deadline ? Kita hidup di era di mana " istirahat dengan tenang " hanya dianggap valid jika status di Slack atau Teams sudah berubah menjadi offline permanen. Entah sejak kapan, memaksakan diri hingga titik darah penghabisan berubah dari sebuah tragedi menjadi sebuah medali kehormatan yang kita pamerkan di bio media sosial. Seni Menghamba pada Jam Pasir: Ketika Tanggung Jawab Menjadi Agama Baru Dedikasi tanpa henti itu seperti mencoba menguras samudra dengan sendok teh; melelahkan, sia-sia, tapi entah kenapa terlihat heroik di mata atasan. Kita seringkali terjebak dalam delusi bahwa dunia akan runtuh jika kita mengambil cuti sehari untuk sekadar bernapas tanpa bayang-bayang revisi. Fenomena " Hingga Detik Terakhir" ini menciptakan kasta baru dalam masyarakat: manusia-manusia yang lebih takut baterai laptopnya habis daripada sisa umurnya sendiri. Kita berkompetisi untuk menjadi ya...