Postingan

Ketika Latar Akademik Tidak Relevan, Memulai Adaptasi Lewat Tugas yang Datang Tanpa Peta

Gambar
Kalian merasa seperti dilempar ke tengah hutan belantara, hanya dibekali sendok teh, lalu disuruh membangun gedung pencakar langit sebelum matahari terbenam? Itulah sensasi magis saat sebuah tugas besar mendarat di meja tanpa panduan, tanpa parameter, dan—yang paling krusial—tanpa sisa kewarasan. Kita hidup di era di mana " adaptasi " sering kali hanyalah kata halus untuk "silakan menebak apa yang ada di kepala atasanmu sebelum dia berubah pikiran lagi." Ini bukan sekadar ujian kompetensi, ini adalah ritual pemanggilan bakat terpendam yang biasanya hanya muncul saat kita benar-benar terdesak atau sudah pasrah total. Navigasi Buta: Seni Meraba-raba di Kegelapan Sambil Pura-pura Tahu Jalan.  Dunia kerja modern sering kali berasumsi bahwa kita memiliki kemampuan telepati tingkat tinggi. Kita diminta mengerjakan proyek " keren " yang definisinya se-abstrak lukisan cat tumpah di galeri seni kontemporer. Akibatnya, kita memulai dengan taktik trial and error yang...

Belajar dari Perang SEAblings VS You Know Who - Etika Digital yang Harus Kita Jaga

Gambar
Bayangkan internet adalah sebuah meja makan raksasa di mana semua bangsa duduk bersama. Sayangnya, alih-alih berbagi hidangan budaya yang lezat, belakangan ini meja tersebut justru dipenuhi aksi lempar piring dan adu mulut antara kita dan tetangga sebelah, yang dipicu oleh "bumbu" rasisme dan kesalahpahaman (?). Perang SEAblings ( Southeast Asian Siblings ) vs You Know Who bukan sekadar drama dadakan; ini adalah cermin besar yang menunjukkan betapa rapuhnya kedamaian kita saat hanya dipisahkan oleh satu tombol refresh . Jika kita terus-menerus bertempur seperti orang yang kehilangan akal sehat setiap kali ada yang menyenggol harga diri kita, apakah kita sedang membela kehormatan bangsa, atau sebenarnya kita hanya sedang memamerkan betapa rendahnya literasi digital kita di depan panggung dunia? Pelajaran pertama yang paling menohok dari konflik ini adalah pentingnya memisahkan kritik terhadap individu dengan penghinaan terhadap bangsa atau ras. Sering kali, saat kita marah pa...

Arkeologi Digital- Menelusuri Jejak Norak di Blog Tahun 2008

Gambar
Menjalankan blog sejak 2008 itu sebenarnya bukan cuma soal hobi, tapi lebih mirip seperti melakukan ekskavasi arkeologi terhadap kebodohan diri sendiri. Kalau kita buka arsip belasan tahun lalu, isinya sering kali bukan pemikiran mendalam ala filsuf, melainkan curhatan tanpa filter dengan penggunaan tanda seru yang berlebihan dan diksi yang bikin dahi mengernyit. Membaca ulang postingan lama itu rasanya seperti melihat foto masa kecil dengan potongan rambut gagal ; ada rasa geli , malu , tapi kita sadar bahwa kekacauan itulah yang membawa kita sampai di titik ini. Evolusi Gaya Menulis: Dari Alay ke Lumayan (Tapi Tetap Lumayan Malu-maluin) Dulu, gaya penulisan kita mungkin berubah-ubah mengikuti tren yang sedang ' in ' atau sekadar meniru blogger idola yang saat itu dianggap paling keren. Kadang kita mencoba terdengar puitis tapi malah berakhir norak, atau ingin terlihat kritis tapi hasilnya malah tidak beraturan dan membingungkan. Fenomena ini sebenarnya sangat manusiawi di ten...