Postingan

JEBAKAN RASA BERSALAH DI RUANG KERJA, AGILITAS ATAU HALUSINASI

Gambar
Disuruh lari kencang tapi matanya ditutup. Itulah ringkasan dari komedi tragis yang sedang kalian jalani sekarang. Manajemen—atau siapa pun yang memegang remote kontrol di sana—selalu punya fetish aneh terhadap kecepatan. " Gerak cepat! ", " Agile !", " Eksekusi sekarang !". Masalahnya, arahnya tidak pernah ada. Kita dipaksa memacu adrenalin di atas labirin yang dindingnya pun belum selesai dibangun. SOP yang seharusnya jadi pagar pembatas malah cuma jadi pajangan yang sesekali kita tabrak karena, ya, mau gimana lagi? Kita cuma diminta lari, bukan diminta berpikir atau melihat peta yang memang sengaja disembunyikan. Agilitas (agility) adalah kemampuan untuk bergerak, berpikir, dan beradaptasi secara cepat, tangkas, dan efektif terhadap perubahan situasi atau tantangan.  Semakin mengejutkan, saat semua ini berakhir berantakan, dunia mendadak hening. Tidak ada teguran keras, tidak ada surat peringatan, bahkan tidak ada diskusi evaluasi yang bermutu. Heningny...

MENGAPA KUAT ITU MELELAHKAN, JADI JANGAN PUJI KETABAHANKU, SAYA HANYA TIDAK PUNYA PILIHAN LAIN

Gambar
Kelihatannya kita perlu meluruskan satu hal: berhenti memuja-muja kekuatan seolah itu adalah pilihan. Orang-orang sering bilang kalau " hancur " adalah tanda kamu kurang tangguh atau kurang ibadah, padahal kenyataannya seringkali sebaliknya. Kamu hancur bukan karena kamu ringkih seperti kerupuk yang kena air, tapi karena kamu sudah menjadi tiang penyangga beban yang terlalu berat untuk waktu yang terlalu lama.  Besi pun ada titik lelahnya—namanya fatigue . Jadi, berhenti merasa bersalah karena akhirnya kamu retak juga. Kita sering terjebak dalam narasi heroik tentang " survivor " yang seolah-olah punya cadangan kekuatan magis di dalam dadanya. Padahal, kalau kita mau jujur di depan kopi yang sudah dingin ini, banyak dari kita bertahan bukan karena kita punya mental baja. Kita bertahan karena kita tidak punya pilihan lain. Sederhana saja. Tidak ada tombol pause, tidak ada pintu keluar darurat, dan dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena kamu ingin menangis di...

MENGAKUI DOSA PADA KETULUSAN, BUTUH KEBERANIAN SEBESAR APA ?

Gambar
Kita semua punya bakat alami untuk menjadi monster bagi orang yang paling mencintai kita. Lucu, ya? dua kata lucu-garinh hari ini " dicintai monster " Kita bisa bersikap luar biasa santun kepada pelayan restoran atau rekan kerja yang bahkan tidak peduli kita masih hidup besok pagi, tapi justru memuntahkan racun kepada orang yang ingin memeluk kita erat. Fenomena ini bukan sekadar kekhilafan. Ini adalah proyeksi ego yang pengecut. Kita merasa " aman " untuk meledak di depan mereka karena ada jaminan bawah sadar bahwa mereka tidak akan angkat kaki. Kita menjadikan ketulusan mereka sebagai karung tinju untuk rasa sakit yang tidak sanggup kita proses sendiri.Logikanya bengkok, tapi nyata. Saat kesehatan mental kita sedang di titik nadir, orang terdekat berubah menjadi cermin yang terlalu terang. Kehadiran mereka yang suportif justru membuat lubang hitam di dalam diri kita terlihat makin kontras—dan kita benci itu. Bukannya berterima kasih, kita malah menyerang. Kita me...