Postingan

Recent Posts

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

Gambar
Produk Gagal? Bukan, Kita Adalah Edisi Terbatas yang Tahan Banting. masih belum selesai membahas generasi ini, dan postingan ini sambungan dari  generasi jembatan . Ada alasan mengapa generasi ini terlihat begitu tenang saat menghadapi perubahan ekstrem: karena kita memang dibentuk oleh keterbatasan dan ditempa oleh krisis berkali-kali. Kita bukan tipe yang langsung depresi hanya karena sinyal internet hilang 10 menit, karena kita pernah hidup di era di mana "menunggu" adalah sebuah seni, bukan beban. Kita belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ada proses panjang yang harus dilalui, bukan sekadar klik checkout dan barang sampai di depan pintu. Belajar Ulang Adalah Jalan Ninjaku: Rahasia Bertahan Generasi 70-an. Kita ini pelaku sejarah yang dipaksa melakukan factory reset pada otak kita berkali-kali. Begitu kita paham aturan main di era Orde Baru, sistemnya bubar. Begitu kita mulai nyaman dengan cara kerja kantoran konvensional, revolusi digital datang dan bilang, "Lupa...

Generasi "Jembatan"

Gambar
1998, Reformasi, dan Wi-Fi: Kenapa Angkatan 70-an Akhir Adalah 'Survivor' Sejati. Kita bicara soal mereka yang lahir antara 1975–1978, sebuah kelompok manusia yang secara teknis adalah " jembatan " peradaban. Kita tumbuh besar dengan kaset pita yang harus diputar pakai pensil kalau kusut, tapi sekarang dipaksa paham cara kerja prompt AI agar tidak digantikan mesin. Kita adalah generasi yang masa remajanya dihabiskan dengan menunggu surat cinta di kotak pos, namun saat dewasa harus bergulat dengan centang biru WhatsApp yang bikin overthinking. Analog di Hati, Digital di Jari: Nasib Lulusan 75-78. Bayangkan saja, saat kita sedang asyik-asyiknya mencari jati diri, reformasi 1998 meledak tepat di depan muka. Kita melihat tatanan lama runtuh, krisis ekonomi mencekik, dan mendadak dunia yang kita kenal berubah total dalam semalam. Fenomena ini unik karena kita tidak punya pilihan selain beradaptasi cepat: pagi hari ikut demo atau liat berita di TV tabung, malamnya belajar c...

Marketing di Atas Luka: Seni Memanfaatkan Musibah Menjadi Cuan.

Gambar
Kita semua tahu bahwa algoritma media sosial itu kejam, tapi ternyata manusia bisa jauh lebih " satset ". Baru-baru ini di Threads, ada sebuah curhatan melankolis tentang seseorang yang kena tilang dan terpaksa "bayar di tempat" dengan uang 150 ribu yang harusnya buat beli kebutuhan pokok.  Di tengah suasana  berduka atas ketidak berdayaan pemilik dompet tersebut, muncul satu komentar yang awalnya terasa seperti empati: menyayangkan kejadiannya, lalu—tanpa transisi berarti—langsung banting setir jualan tas harga seratus ribuan lengkap dengan link affiliate. Sebuah manuver marketing yang begitu halus sekaligus kasar di saat yang bersamaan. Uang Tilang vs. Tas Baru: Saat Empati Kalah Cepat dari Link Affiliate. Kejadian ini membuktikan bahwa ilmu " bridging " atau jembatan konten di Indonesia sudah mencapai level yang mengkhawatirkan sekaligus mengagumkan. Si penjual tidak peduli apakah Anda sedang ditilang, putus cinta, atau kena musibah; selama ada angka ya...