Postingan

Recent Posts

Stop Wishing, Start Creating: Karena Keajaiban Nggak Datang dari Wishlist Shopee.

Gambar
Kita semua pasti punya satu teman (atau mungkin kaca di kamar mandi) yang hobi banget bilang, "Duh, pengen deh bikin konten kayak gitu," atau "Andai gue punya waktu buat mulai bisnis itu." Masalahnya, semesta nggak bekerja pakai sistem wishlist. Menunggu inspirasi datang sambil rebahan dan scrolling video motivasi itu ibarat nunggu tukang paket datang padahal kita nggak pesen apa-apa; nihil hasilnya, cuma bikin pegel leher doang. Stop Wishing, Start Creating : Karena Keajaiban Nggak Datang dari Wishlist Shopee. Fenomena "pengen tapi nggak jalan" ini sudah jadi penyakit kronis di era digital. Kita terlalu sibuk mengkurasi ide di kepala supaya kelihatan sempurna, padahal di luar sana, orang-orang yang kita anggap 'kurang kompeten' justru sudah mulai duluan hanya karena mereka nggak kakehan mikir. Lucu ya, kita lebih takut dikritik atas karya yang belum ada, daripada merasa malu karena cuma jadi penonton setia di balik layar yang kerjaannya cuma kasih...

Membedakan Antara Benar-Benar Kerja atau Cuma Sibuk Cari Perhatian.

Gambar
  Kita semua pasti punya satu teman di media sosial yang setiap kali mau mengerjakan sesuatu, dramanya lebih panjang daripada hasil kerjanya. Dari foto kopi estetik, tumpukan buku yang entah dibaca atau tidak, sampai caption motivasi yang diambil dari hasil pencarian Google tercepat. Inilah fenomena di mana "aksi" berubah menjadi " distraksi "—sebuah upaya keras untuk terlihat sibuk yang justru memakan waktu produktivitas itu sendiri. Kita terjebak dalam delusi bahwa dengan memberi tahu dunia kita sedang beraksi, maka pekerjaan tersebut otomatis akan selesai dengan sendirinya. Seni Bergerak Tanpa Berisik: Saat Aksi Menjadi Solusi, Bukan Sekadar Polusi Visual. Padahal, aksi sejati itu sifatnya fungsional, bukan dekoratif. Bayangkan kamu sedang lari pagi; aksi adalah saat kakimu menghantam aspal dan keringat bercucuran, sementara distraksi adalah saat kamu berhenti setiap 500 meter hanya untuk memilih filter foto yang membuat wajahmu tetap terlihat " glow up ...
Gambar
Kita semua pernah melakukannya: bangun tidur, buka Instagram, lalu merasa tertinggal sepuluh tahun cahaya hanya karena melihat teman SMA baru saja membeli apartemen hasil dari investasi crypto atau diet ketogenik yang entah berhasil atau tidak. Kita dengan antusias menyalin " peta " mereka, mengikuti setiap langkahnya, dan berharap sampai di titik kebahagiaan yang sama. Masalahnya, kita sering lupa bahwa peta yang mereka gunakan dibuat berdasarkan medan perjalanan mereka sendiri, bukan jalan berlubang dan tanjakan curam yang sedang kita hadapi saat ini. Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain; awalnya mungkin terlihat keren di cermin, tapi lama-lama kaki kita lecet juga. Fenomena " FOMO " dan gaya hidup copy-paste ini membuat kita menjadi turis di hidup sendiri, sibuk mencari landmark yang sebenarnya tidak ingin kita kunjungi. Kita terlalu sibuk memvalidasi apakah " pencapaian " kita sudah sesuai standar ...