KENAPA MASA LALU SELALU TERLIHAT LEBIH BENAR

Photo Masa Lalu 

Ada fase di hidup di mana pikiran mulai sering muter ke belakang—bukan buat nostalgia, tapi buat negosiasi sama penyesalan. “Kalau saja waktu itu gue pilih yang lain…” Kalimat ini bukan cuma lewat sekali dua kali, tapi jadi semacam background noise yang pelan-pelan mengganggu fokus. Bukan karena hidupnya hancur, tapi karena tahu—ada titik di masa lalu yang mungkin bisa diambil dengan cara lebih benar.

Masalahnya, “lebih benar” itu selalu kelihatan jelas… setelah semuanya lewat. Waktu masih di momen itu, semua pilihan terasa masuk akal. Bahkan keputusan yang sekarang disesali pun dulu punya alasan yang cukup kuat. Tapi ya itu—logika masa lalu sering kalah sama standar versi diri yang sekarang. Jadinya, kita menghakimi diri sendiri pakai kebijaksanaan yang dulu belum kita punya. Agak curang, tapi sering banget kejadian.

Dan makin sering dipikirin, makin terasa kalau hidup ini kayak rangkaian “hampir”. Hampir ambil peluang itu. Hampir bilang sesuatu yang jujur. Hampir berani keluar dari situasi yang salah. Tapi akhirnya nggak jadi—entah karena takut, ragu, atau sekadar nunggu waktu yang katanya “lebih tepat”. Padahal, waktu yang lebih tepat itu sering cuma ilusi yang kita pakai buat menunda.

Yang bikin makin nyesek, bukan cuma soal keputusan besar. Kadang justru hal kecil yang terus kebawa. Cara ngomong ke orang tua. Sikap ke teman. Kesempatan yang dilewatkan karena terlalu banyak mikir. Hal-hal sepele yang kalau diputar ulang di kepala, rasanya pengen bilang ke diri sendiri, “Udah, jangan gitu. Coba yang ini aja.” Tapi ya, hidup bukan draft yang bisa di-edit.

Menariknya, keinginan buat muter waktu itu sebenarnya bukan tentang masa lalu—tapi tentang rasa nggak puas sama diri sendiri yang sekarang. Ada versi diri yang dibayangin: lebih berani, lebih bijak, lebih tepat ambil keputusan. Dan setiap penyesalan itu kayak pengingat bahwa kita belum jadi versi itu. Jadi wajar kalau otak terus nyari celah buat “balik” dan memperbaiki.

Tapi ya, realitanya kita nggak pernah dikasih tombol rewind. Yang ada cuma play—terus jalan, dengan semua beban keputusan sebelumnya. Ironisnya, keputusan yang sekarang kita ambil, suatu hari nanti juga bisa jadi bahan penyesalan berikutnya. Jadi pertanyaannya bukan lagi “gimana kalau bisa memutar waktu”, tapi “mau sampai kapan terus negosiasi sama masa lalu?

photo by sarandy westfall 

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama