Sejarah itu selektif. Bukan karena kekurangan cerita, tapi karena terlalu banyak yang harus dipilih—dan, tentu saja, disederhanakan. Di titik itulah, beberapa nama dari tanah Sunda perlahan menghilang. Bukan gugur, bukan kalah. Hanya… tidak cukup sering disebut.
Otto Iskandardinata pernah berdiri di jantung republik yang baru lahir. Ia bukan figuran. Ia penggerak. Dijuluki “Si Jalak Harupat”, suaranya tajam, sikapnya tegas. Tapi sejarah memberinya akhir yang ganjil—hilang tanpa jejak pada 1945. Tidak ada makam resmi, tidak ada penutup dramatis. Seolah kisahnya dipotong di tengah kalimat.
Bandung terbakar pada 1946. Kita mengenalnya sebagai Bandung Lautan Api. Kota jadi legenda. Tapi pelaku utamanya, Mohammad Toha, justru jarang jadi pusat cerita. Ia membawa bahan peledak ke gudang amunisi Sekutu, lalu meledakkannya—aksi yang nyaris pasti berujung kematian. Heroik, ya. Tapi popularitasnya? Tidak sebanding dengan kobaran apinya.
Sementara itu, Dewi Sartika sudah berbicara soal pendidikan perempuan jauh sebelum itu menjadi wacana nasional. Ia mendirikan sekolah, membentuk cara berpikir, mengubah peran perempuan di masyarakat Sunda. Namun dalam narasi besar emansipasi, namanya sering jadi alternatif—bukan arus utama. Padahal ia bukan pelengkap, ia fondasi.
Di sisi lain, ada Raden Aria Wangsakara. Ia mendirikan wilayah yang kini dikenal sebagai Tangerang, melawan VOC, dan membangun basis masyarakat. Tapi yang diingat orang hanya nama daerahnya. Ironinya sederhana: kita tinggal di warisannya, tapi tidak mengenalnya.
Lalu muncul nama-nama seperti Achmad Hidayat—tokoh lokal, pejuang lapangan, pemimpin kecil dengan dampak nyata. Tidak ada monumen besar, tidak ada bab khusus di buku sejarah nasional. Tapi tanpa mereka, perjuangan tidak pernah benar-benar terjadi di level akar.
Di sinilah sarkasnya terasa pahit. Sejarah kita bekerja seperti kurasi—bukan hanya mencatat, tapi juga memilih mana yang “layak” diingat. Yang besar diperbesar, yang sunyi dipadatkan, lalu perlahan dihapus. Seolah perjuangan harus dramatis dulu baru dianggap penting.
Masalah lain: dokumentasi. Banyak pejuang Sunda tidak sempat menulis. Mereka bertindak. Sementara sejarah, ironisnya, lebih percaya pada yang tertulis daripada yang terjadi. Akibatnya, yang tidak terdokumentasi dianggap tidak signifikan.
Ada juga bias pusat. Narasi nasional cenderung berputar di figur tertentu, wilayah tertentu. Sunda sering hadir sebagai latar—tempat peristiwa terjadi—bukan sebagai subjek yang bercerita. Perspektifnya ada, tapi jarang diprioritaskan.
Yang tersisa sekarang hanya potongan-potongan. Nama jalan, sekolah, atau cerita turun-temurun yang makin samar. Kita mengenali simbolnya, tapi kehilangan konteksnya. Kita hafal peristiwanya, tapi lupa siapa yang mempertaruhkan hidup di dalamnya.
Dan mungkin, di situlah masalah utamanya: bukan karena mereka dilupakan sepenuhnya, tapi karena kita tidak cukup serius untuk mengingat dengan utuh. Sejarah tidak pernah benar-benar kehilangan tokoh—kita saja yang berhenti mencarinya.
Photo by Abdul Ridwan on Unsplash
Referensi & Penjelasan:
- Arsip nasional & literatur sejarah Indonesia (biografi tokoh seperti Otto Iskandardinata, Dewi Sartika).
- Dokumentasi peristiwa Bandung Lautan Api (Mohammad Toha sebagai pelaku utama aksi sabotase).
- Sejarah lokal Banten & Tangerang (R.A. Wangsakara sebagai pendiri wilayah).
- Pola historiografi Indonesia menunjukkan bias pada tokoh nasional populer dan minim eksplorasi tokoh lokal.
