![]() |
| ayo ganti baterenya !! |
Pernahkah Anda bertamu dan melihat jam dinding yang jarumnya terpaku kaku di angka 10:10 selama berbulan-bulan? Reaksi pertama biasanya mistis: "Wah, jam mati bawa sial." Seolah-olah jam itu berubah jadi portal dimensi lain yang mengundang nasib buruk. Padahal, mari jujur, jam itu berhenti bukan karena gangguan gaib, tapi karena baterai AA di dalamnya sudah bocor dan karatan sejak Lebaran tahun lalu. Kita seringkali lebih memilih takut pada kutukan daripada repot-repot memanjat kursi untuk mengganti sumber daya seharga lima ribu perak.
Dalam kacamata Primbon atau Feng Shui, jam mati memang dianggap sebagai "nadi yang putus". Energi statis yang tercipta konon menghambat aliran rezeki. Namun, jika dipikir menggunakan logika waras, ini adalah sarkasme alam semesta yang luar biasa: seolah-olah seluruh keberuntungan hidup Anda digerakkan oleh seonggok baterai murah. Jika hidup Anda benar-benar "macet" hanya karena jarum jam tidak berputar, mungkin masalahnya bukan pada jamnya, tapi pada betapa rapuhnya sistem manajemen hidup yang Anda bangun.
Pertanyaan besarnya: Untuk apa Anda memasang jam di dinding sejak awal? Niat mulianya tentu sebagai pengingat waktu, sang penunjuk arah aktivitas. Tapi begitu baterainya habis dan Anda membiarkannya membatu, fungsi itu gugur. Kalau tujuannya cuma hiasan dinding yang diam tak bergerak, masih mending Anda membiarkan cicak menempel di sana sebagai hiasan alami yang hidup. Atau kalau mau lebih ekstrem, biarkan kecoa merayap di sana; setidaknya ia berfungsi sebagai sarana olahraga mendadak ala ninja saat Anda mencoba memukulnya. Cicak dan kecoa punya fungsi, sementara jam mati hanyalah monumen kegagalan fungsi yang memakan ruang.
Secara psikologis, jam mati mengirimkan sinyal bawah sadar tentang stagnasi. Bagaimana Anda bisa meyakinkan diri sendiri (atau orang lain) bahwa Anda sedang bergerak maju, sementara benda paling dasar di ruangan Anda saja sudah "pensiun dini"? Malas mengganti baterai jam dinding adalah indikator kecil dari kemalasan yang lebih sistemik. Jika urusan sepele seperti memastikan waktu berjalan saja Anda abaikan, bagaimana mungkin Anda punya kredibilitas untuk melakukan tugas berat? Jangankan mengubah nasib, meyakinkan Donald Trump bahwa setiap keputusannya adalah kekonyolan terbesar abad ini pun rasanya mustahil Anda lakukan jika tangga dan baterai baru saja jadi hambatan besar.
Di era di mana smartphone dan smartwatch sudah melekat di tangan, jam dinding memang bergeser menjadi sekadar elemen estetika. Namun, estetika jam mati adalah estetika kelalaian. Tamu yang berkunjung tidak akan peduli seberapa mahal merk jam Anda jika jarumnya diam seribu bahasa. Mereka hanya akan melihat satu hal: pemilik rumah ini punya urusan yang belum selesai dengan disiplin diri. Jam mati adalah "resepsionis yang tidur" di kantor masa depan Anda—ia ada, tapi tidak melayani siapa pun.
Tentu saja, ada sisi positif dari mitos "sial" ini. Rasa takut pada nasib buruk memaksa orang-orang yang malas untuk setidaknya merawat properti mereka. Ketakutan akan hantu atau rezeki mampet adalah motivasi yang cukup efektif untuk membuat seseorang akhirnya pergi ke minimarket membeli baterai baru. Jadi, jika Anda butuh takhayul agar rumah tidak terlihat seperti bangunan terbengkalai, silakan pelihara mitos itu. Jadikan rasa takut akan "energi negatif" sebagai cambuk untuk segera bergerak.
Kesimpulannya sederhana: tidak ada setan yang bersembunyi di balik jarum jam yang diam, yang ada hanyalah debu dan ego yang terluka. Jika Anda memang tidak niat mengganti baterainya, lebih baik copot jam itu, bungkus, dan simpan di gudang. Memajang jam mati itu seperti memakai sepatu tanpa sol; tampak benar dari kejauhan, tapi menyedihkan saat dijalani. Pilihlah: ganti baterainya sekarang, atau akui bahwa cicak di dinding jauh lebih kompeten dalam menghias rumah daripada Anda.
Photo by Florian Siedl on Unsplash
