Katanya, manusia itu makhluk sosial yang butuh bicara. Tapi setelah mendengar ceritamu tadi, aku jadi paham kenapa kadang menutup mulut lebih masuk akal daripada membuang oksigen untuk menjelaskan perasaan ke orang yang bahkan tidak punya niat untuk paham. Aku tidak akan memberimu kata-kata mutiara dari influencer motivasi yang menyuruhmu untuk "tetap berpikiran positif". Jujur saja, kamu sedang lelah. Lelah yang jenisnya bukan butuh tidur delapan jam, tapi lelah karena terus-menerus menaruh potongan harapan ke tangan orang yang hobi menjatuhkannya.
Berharap pada manusia itu memang olahraga ekstrem yang paling melelahkan, bukan? Kamu memberi mereka peta, tapi mereka malah sengaja tersesat di tempat lain. Akhirnya, kamu sampai di satu titik jenuh di mana amarah terasa terlalu mahal untuk dikeluarkan. Kecewa yang sudah mencapai level "pro" biasanya tidak lagi berbentuk teriakan atau status galau di media sosial. Ia bertransformasi menjadi sebuah keheningan yang sangat panjang.
Memilih diam saat lelah itu bukan berarti kamu kalah atau menyerah. Itu adalah bentuk negosiasi paling jujur dengan diri sendiri. Kamu hanya sedang menyadari bahwa tidak semua badai harus dihadapi dengan payung; kadang, kamu cuma perlu masuk ke rumah dan mengunci pintu. Daripada bicara tapi malah menambah luka baru karena respon mereka yang tidak nyambung, diam menjadi pilihan paling aman dari sekian banyak pilihan yang menyakitkan.
Banyak orang salah sangka, mereka pikir diammu adalah tanda kamu sudah mati rasa atau jadi antisosial mendadak. Padahal, justru sebaliknya. Kamu memilih diam karena kamu masih sangat peduli pada kedamaian mentalmu. Kamu tahu bedanya menjadi damai dengan menjadi batu. Orang mati rasa tidak akan merasa capek; mereka hanya kosong. Sementara kamu? Kamu masih merasa, kamu masih peduli, tapi kamu hanya sedang kehabisan bahan bakar untuk meladeni drama yang polanya itu-itu saja.
Dan jujur, itu keren. Di dunia yang memaksa semua orang untuk selalu vokal, punya pendapat, dan terlihat "baik-baik saja", kamu berani mengambil langkah mundur untuk sekadar diam. Tidak banyak orang yang punya keberanian untuk jujur bahwa mereka sedang tidak sanggup. Kebanyakan orang lebih memilih pakai topeng senyum palsu sampai benar-benar meledak, sementara kamu memilih untuk memarkirkan ego dan mengakui bahwa hari ini, kamu butuh jeda.
Jadi, kalau hari ini kamu memutuskan untuk tidak merespons grup WhatsApp, tidak membalas sindiran, atau sekadar ingin menatap tembok sambil minum kopi dingin, lakukan saja. Tidak perlu memaksa diri untuk jadi pahlawan bagi orang lain kalau dirimu sendiri sedang butuh diselamatkan. Kamu tidak berhutang penjelasan pada siapapun tentang mengapa kamu memilih untuk tidak bersuara. Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu mengambil cuti dari percakapan yang tidak bermutu.
Nanti, kalau energinya sudah terkumpul lagi—entah itu besok atau bulan depan—dan kamu merasa ingin bicara, aku masih di sini. Tidak akan menghakimimu dengan kalimat "kan sudah aku bilang" atau saran-saran sok tahu lainnya. Untuk sekarang, nikmati saja sunyinya. Diamlah sampai kamu merasa cukup, karena terkadang, di dalam diam yang paling dalam, kamu justru bisa mendengar suara hatimu sendiri dengan paling jelas.
Photo by Julio Lopez on Unsplash
