Saya sudah lama tidak menonton Persib secara penuh. Bukan karena cinta yang luntur, tapi demi menjaga kesehatan pita suara dan kewarasan tetangga. Menonton 90 menit bagi saya adalah ujian mental; mulut ini otomatis berubah jadi komentator dadakan yang frekuensi suaranya jauh melampaui volume TV. Setiap tekel keras atau gol yang dianulir direspon dengan teriakan yang sanggup membangunkan bayi tidur di blok sebelah. Jadi, nonton sendirian sebenarnya adalah bentuk tanggung jawab sosial agar saya tidak dianggap gila karena berdebat dengan benda mati.
Semalam, saya mencoba metode baru: strategi dual-screen. Mata fokus ke permainan ketangkasan arrow path di gawai, sementara telinga memonitor narasi komentator TV. Di tengah konsentrasi memencet layar, sudut mata saya menangkap pemandangan absurd: sebuah spanduk raksasa bertuliskan "KALAH JADI CACING, MENANG JADI NAGA!". Saya sempat membatin, "Gila, ini antara motivasi atau malah kutukan buat diri sendiri?"—lalu kembali fokus ke game karena game ini jauh lebih bisa saya kontrol daripada emosi pemain di lapangan.
Ekspektasi saya sempat ambruk saat gawang Persib jebol di menit ke-19. Omelan sarkas mengalir deras, seolah-olah instruksi saya bisa menembus dimensi ruang hingga ke Samarinda. Namun, semesta punya selera humor yang bagus. Adam Alis mencetak gol di menit ke-28, lalu menggandakannya di menit ke-37. Saya hanya bisa tersenyum simpul, jenis senyum penuh kemenangan saat menemukan uang di saku celana yang habis dicuci. Tidak ada perayaan heboh atau pelukan, hanya kepuasan sunyi yang merayap pelan di ruang tamu yang temaram.
Rasa penasaran membawa saya ke mesin pencari setelah peluit panjang ditiup. Ternyata, spanduk "Cacing vs Naga" itu adalah karya The Jakmania di Stadion Segiri untuk memacu tim mereka. Ironisnya luar biasa; mereka yang menyiapkan panggung, tapi Persib yang jadi naganya. Tim lawan harus pulang membawa predikat "cacing" di kandang sendiri akibat ulah provokasi suporter mereka yang bumerang. Saya tidak ingin tertawa keras—itu tidak elegan—tapi melihat realita yang begitu pas dengan tulisan di spanduk itu memang memberikan kepuasan komedi yang sulit dicari tandingannya.
KAMI DAN BEBERAPA KISAH KENANGAN KAMI (DAN BANDUNG)
NAMA BESAR YANG TENGGELAM: TOKOH SUNDA TERLUPA
CATATAN PERDANA KE CURUG CIBAREUBEUY
SAAT ATURAN MUDAH TAPI IMPLEMENTASI MASIH SULIT
Yang melekat di kepala saya pagi ini bukan cuma skor 2-1, tapi bayangan kemacetan di Flyover Pasupati nanti malam. Di Bandung, kemenangan Persib adalah jaminan mutu jalanan akan tersumbat oleh euforia massal. Meski saya memilih tetap diam di rumah sambil memainkan game receh, bayangan kota yang berpesta itu sudah cukup membuat saya menyeringai. Biar saja saya menonton dengan lirik-lirik kecil, karena pada akhirnya, yang paling penting adalah rasa senang yang tidak perlu divalidasi siapa pun. Naga itu sudah pulang, dan cacingnya? Yah, mungkin sedang mencari lubang persembunyian yang nyaman.
Foto oleh Peter Glaser di Unsplash & Foto Mang Adam Alis dari Persib.co.id

