SENYUM YANG TERLATIH DI MEJA MAKAN

SENYUM YANG TERLATIH DI MEJA MAKAN

Dia selalu terlihat santai di meja makan. Ketawa seperlunya, jawab pertanyaan orang tua dengan nada ringan—seolah hidupnya baik-baik saja. “Lagi proses,” katanya. Kalimat paling aman yang bisa dipakai berulang tanpa harus menjelaskan apa-apa. Semua orang mengangguk, mungkin percaya, mungkin juga tidak terlalu peduli. Yang penting suasana tetap nyaman, kan?

Padahal di kepalanya, kalimat itu terasa seperti utang. Setiap ditanya “kapan ini, kapan itu,” ada jeda kecil sebelum menjawab—jeda yang isinya bukan mikir, tapi menahan rasa gagal yang mulai berisik. Bukan karena dia tidak berusaha. Justru karena sudah mencoba banyak hal, tapi hasilnya belum juga cukup untuk disebut “membanggakan.”

Lucunya, standar “cukup” itu bukan miliknya sendiri. Itu warisan. Dari obrolan keluarga, dari perbandingan halus dengan anak tetangga, dari harapan yang disampaikan dengan cara paling sopan tapi tetap menekan. Tidak ada yang secara langsung bilang dia gagal. Tapi diamnya orang tua kadang lebih keras dari kritik mana pun.

Makanya dia memilih terlihat santai. Bukan karena tidak peduli, tapi karena capek menjelaskan sesuatu yang bahkan dia sendiri belum paham ujungnya ke mana. Lebih mudah terlihat biasa saja daripada harus membuka percakapan yang ujungnya selalu sama: ekspektasi yang belum tercapai. Jadi dia belajar tersenyum di momen yang tepat—semacam skill sosial yang tidak pernah dia minta.

Dan di balik semua itu, ada satu hal yang jarang dibahas—takut pulang dengan cerita yang sama. Takut ditanya lagi dengan nada yang makin hati-hati. Takut dianggap “masih di situ-situ aja.” Jadi dia terus memainkan peran itu: anak yang santai, yang kelihatannya tidak terbebani apa-apa. Padahal, kalau benar santai, mungkin dia tidak perlu latihan jadi kuat setiap hari.

 Photo by Ratapan Anantawat on Unsplash  

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama