DUA PERIODE DI JABAR, JANGAN KE JAKARTA SEBELUM PEKERJAAN RUMAH SELESAI

Kita semua tahu rumusnya: jadi pejabat itu artinya duduk manis di balik meja jati, menandatangani tumpukan berkas yang entah dibaca atau tidak, lalu pulang dikawal sirine yang membelah kemacetan. Tapi Dedi Mulyadi sepertinya kehilangan memo itu. Beliau malah memilih berkubang di debu jalanan, menghadapi drama kolosal rakyat yang nyata, bukan sekadar angka di atas kertas laporan statistik yang seringkali dipoles agar terlihat cantik di depan atasan. Miris, sebenarnya.

Kenapa seorang Gubernur harus sampai turun tangan urusan remeh-temeh di pinggir jalan? Jawabannya sederhana sekaligus menyakitkan. Karena banyak orang yang digaji negara untuk urusan itu sedang sibuk menikmati kopi di ruangan ber-AC atau mungkin sedang asyik merapikan tata letak kursi rapat. Ada kekosongan fungsi yang menganga lebar. Pak Dedi hadir bukan karena dia hobi cari keringat di bawah terik matahari Jabar, tapi karena sistem di bawahnya seringkali berjalan seperti siput yang sedang radang sendi — lambat dan tidak bertenaga.

Lalu munculah senjata paling mematikan abad ini: kamera. YouTube bukan lagi sekadar platform cari adsense atau pamer kemewahan bagi beliau. Ini adalah bentuk laporan pertanggungjawaban harian yang paling jujur dan transparan. Saat birokrasi lama terjebak dalam tumpukan dokumen fisik yang berdebu di gudang arsip, Pak Dedi menyuguhkan realitas tanpa filter yang divalidasi langsung oleh jutaan pasang mata netizen. Akuntabilitas publik tidak lagi butuh audit formal yang kaku; cukup tekan tombol play, dan kita tahu siapa yang bekerja dan siapa yang hanya menumpang nama.

Tentu saja, aksi "one-man show" ini mengundang paduan suara sumbang. Ada yang bilang pencitraan, ada yang bilang melangkahi wewenang, atau sekadar haus konten. Lucu. Mereka yang berisik mengkritik biasanya adalah orang-orang yang merasa terganggu zona nyamannya karena standar kerja mereka yang rendah jadi terlihat sangat kontras. Padahal, kalau saja semua bawahan dan dinas terkait bekerja dengan separuh saja energi yang beliau keluarkan, Pak Dedi mungkin bisa lebih santai menikmati teh di teras Gedung Sate tanpa harus melerai keributan warga.

Harapan saya — dan mungkin banyak orang yang masih waras — jangan dulu tergiur dengan wangi kursi di Jakarta atau panggung nasional yang penuh intrik itu. Jawa Barat ini luas, masalahnya serumit benang kusut yang ditarik kucing. Butuh waktu lebih dari sekadar satu periode untuk membersihkan sisa-sisa kemalasan birokrasi yang sudah mengakar. Selesaikan dulu di sini, 

Pak. Maksimalkan dua periode. Biarkan daerah ini benar-benar "nyantri, nyunda, nyakola" sebelum Bapak melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Karena jujur saja, mencari pemimpin yang mau kotor-kotoran demi urusan rakyat itu jauh lebih sulit daripada mencari politisi yang pintar berjanji di depan podium.

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama