ILUSI PELAYANAN PUBLIK DI BALIK CENTANG BIRU MEDIA SOSIAL


Katanya kita sudah masuk era industri 4.0, tapi entah kenapa menghubungi instansi pemerintah rasanya masih seperti mengirim pesan botol di tengah samudra—penuh harapan tapi minim kepastian. Coba saja iseng telepon nomor resmi mereka. Nada sambung yang monoton itu akan menghantui telinga kalian sampai pulsa habis, tanpa ada satu pun manusia yang sudi mengangkat. Kalaupun beruntung, kalian akan disambut oleh suara mesin otomatis dengan pilihan menu yang lebih rumit daripada soal kalkulus. Tekan satu untuk ini, tekan dua untuk itu, lalu akhirnya diputus sepihak karena "petugas sedang sibuk". Lucu. Sibuk apa? Sibuk pura-pura tidak dengar dering telepon?

Pindah ke media sosial, situasinya tidak jauh lebih baik. Akun dengan centang biru itu isinya cuma foto-foto seremonial pejabat potong pita atau ucapan selamat hari besar yang desainnya masih pakai font tahun 90-an. Coba kalian tanya lewat Direct Message atau komentar. Sepi. Sunyi. Padahal statusnya online. Sekalinya ada jawaban, isinya cuma salinan teks dari buku panduan yang sama sekali tidak menjawab substansi masalah. "Silakan hubungi kantor terdekat," katanya. Padahal kita menghubungi media sosial justru supaya tidak perlu bermacet-macet ria ke kantor mereka yang parkirannya selalu penuh itu.

Lalu ada WhatsApp resmi, kebanggaan baru yang katanya mempermudah pelayanan. Tapi jangan salah, ini bukan WhatsApp tempat kalian bisa mengobrol. Ini adalah sarang chatbot yang IQ-nya mungkin di bawah suhu ruangan. Apa pun keluhan kalian, jawabannya akan selalu sama: "Terima kasih telah menghubungi kami, silakan pilih menu berikut." Kita butuh solusi, bukan pilihan menu ganda yang ujung-ujungnya menyuruh kita mengirim email yang juga tidak akan pernah dibalas. Digitalisasi di sini sepertinya cuma cara elegan untuk membangun benteng agar masyarakat tidak bisa protes langsung ke muka mereka.

Belum lagi bicara soal hotline tiga angka yang sering dipromosikan di papan reklame pinggir jalan. Menelepon nomor itu adalah ujian kesabaran tingkat dewa. Kalian akan dilempar dari satu operator ke operator lain seperti bola pingpong, menjelaskan masalah yang sama berulang kali, hanya untuk mendengar kalimat pamungkas: "Maaf, sistem sedang dalam perbaikan." Luar biasa. Di tengah klaim transformasi digital yang menggelegar, kita justru terjebak dalam labirin teknologi yang malfungsi. Komunikasi efektif itu dua arah. Kalau cuma satu arah dan isinya robot semua, itu namanya bukan pelayanan, tapi pengabaian yang terstruktur dan sistematis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LELAH TAK KUNJUNG USAI

Kekuatan Tidak Datang dari Langit

JEJAK DIGITAL KITA YANG TERBUKA LEBAR