OBSESI MEMBUAT ORANG PATAH HATI TERSENYUM

Lucunya, kata-kata penyemangat yang niatnya meringankan beban justru sering kali terasa seperti tuntutan administratif. Kamu dipaksa untuk "bangkit," "bersyukur," atau "melihat sisi positif," padahal kapasitas mentalmu saat itu mungkin cuma cukup untuk bernapas tanpa meledak. Kita seolah dilarang untuk berlama-lama di dalam lubang hitam, seakan ada standar operasional prosedur untuk durasi patah hati yang kalau dilanggar, kamu dianggap lemah atau kurang iman.
Benar-benar sebuah tuntutan produktivitas dalam hal penderitaan yang sangat tidak masuk akal.Kita sebenarnya cuma butuh ruang untuk menjadi manusia yang gagal sejenak. Berhenti berpura-pura bahwa semuanya akan segera baik-baik saja adalah bentuk kejujuran paling mewah yang bisa kita miliki. Ada kenyamanan yang ganjil saat kita diizinkan untuk merangkul rasa sakit itu tanpa interupsi, tanpa ada suara-suara bising yang mencoba memperbaiki sesuatu yang memang sudah hancur.
Lagipula, sejak kapan proses penyembuhan harus punya tenggat waktu layaknya cicilan kartu kredit? Pada akhirnya, yang paling mahal adalah kehadiran seseorang yang tahu kapan harus menutup mulutnya. Sosok yang cukup duduk di sampingmu, membiarkan keheningan mengambil alih, tanpa merasa perlu menjadi pahlawan dengan kutipan-kutipan bijak dari internet.
Kita tidak butuh instruksi cara berjalan kembali—kita hanya butuh ditemani saat sedang duduk diam di pinggir jalan, sampai perlahan-lahan detak jantung kita sendiri yang memberi tanda bahwa dunia sudah cukup tenang untuk kita hadapi lagi.
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...