MENGAKUI DOSA PADA KETULUSAN, BUTUH KEBERANIAN SEBESAR APA ?
Kita semua punya bakat alami untuk menjadi monster bagi orang yang paling mencintai kita. Lucu, ya? dua kata lucu-garinh hari ini "dicintai monster" Kita bisa bersikap luar biasa santun kepada pelayan restoran atau rekan kerja yang bahkan tidak peduli kita masih hidup besok pagi, tapi justru memuntahkan racun kepada orang yang ingin memeluk kita erat.
Fenomena ini bukan sekadar kekhilafan. Ini adalah proyeksi ego yang pengecut. Kita merasa "aman" untuk meledak di depan mereka karena ada jaminan bawah sadar bahwa mereka tidak akan angkat kaki. Kita menjadikan ketulusan mereka sebagai karung tinju untuk rasa sakit yang tidak sanggup kita proses sendiri.Logikanya bengkok, tapi nyata.
Saat kesehatan mental kita sedang di titik nadir, orang terdekat berubah menjadi cermin yang terlalu terang. Kehadiran mereka yang suportif justru membuat lubang hitam di dalam diri kita terlihat makin kontras—dan kita benci itu. Bukannya berterima kasih, kita malah menyerang. Kita melukai mereka bukan karena mereka salah, tapi karena mereka adalah target termudah yang tersedia.
Memang jauh lebih gampang menyalahkan perhatian orang lain daripada mengakui bahwa kita sedang hancur berantakan di dalam.Momen ketika kesadaran itu menghantam—saat kamu melihat luka di mata mereka yang disebabkan oleh mulut tajammu—rasanya memang seperti kiamat kecil.
Ada kehancuran yang tak terlukiskan ketika kita sadar telah menjadi penjahat dalam cerita orang yang paling ingin menyelamatkan kita. Tapi, mari jujur. Rasa sakit akibat rasa bersalah ini adalah alarm paling jujur yang pernah kamu miliki. Tanpa rasa hancur ini, kamu mungkin akan terus berjalan dalam delusi bahwa dirimu adalah korban tunggal di dunia ini, padahal kamu sedang sibuk menciptakan korban-korban baru di sekitarmu.Justru dari reruntuhan rasa bersalah inilah, proses healing yang sebenarnya menemukan fondasinya.
Sembuh itu bukan sekadar meditasi atau minum kopi di senja hari sambil mengutip kalimat puitis.
Sembuh itu adalah keberanian untuk menatap cermin, mengakui bahwa kita pernah bersikap buruk, dan mulai belajar untuk tidak lagi memproyeksikan luka kepada tangan yang terulur. Luka yang kamu berikan kepada mereka menjadi pengingat bahwa kamu manusia yang butuh perbaikan.
Pahit, memang.
Tapi bukankah obat yang paling manjur memang jarang yang rasanya manis?
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...