Pertanyaan “sekarang kerja apa?” itu terdengar sederhana—ringan, basa-basi, bahkan klise. Tapi buat sebagian orang, itu seperti alarm yang berbunyi di kepala. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena jawabannya terasa… kurang layak untuk dibanggakan. Dan anehnya, bukan orang lain yang paling keras menghakimi. Diri sendiri duluan yang bikin kecil.
Kadang yang bikin takut itu bukan pertanyaannya, tapi ekspektasi yang ikut menempel. Seolah jawaban harus terdengar “keren”, stabil, atau minimal bisa bikin orang lain mengangguk pelan sambil bilang, “oh bagus.” Padahal realitanya? Masih nyoba ini-itu. Masih loncat sana-sini. Masih belum nemu bentuk yang pas. Dan itu sah—meski sering terasa seperti aib yang harus disembunyikan.
Kita hidup di zaman yang katanya serba fleksibel, tapi standar suksesnya tetap sempit. Kerja harus jelas. Jabatan harus spesifik. Penghasilan harus bisa dipamerkan diam-diam lewat gaya hidup. Jadi begitu jawaban kita tidak masuk template itu, langsung muncul rasa ragu. “Ini cukup gak ya?” Padahal, siapa juga yang bikin template itu?
Kadang yang bikin takut itu bukan pertanyaannya, tapi ekspektasi yang ikut menempel. Seolah jawaban harus terdengar “keren”, stabil, atau minimal bisa bikin orang lain mengangguk pelan sambil bilang, “oh bagus.” Padahal realitanya? Masih nyoba ini-itu. Masih loncat sana-sini. Masih belum nemu bentuk yang pas. Dan itu sah—meski sering terasa seperti aib yang harus disembunyikan.
Kita hidup di zaman yang katanya serba fleksibel, tapi standar suksesnya tetap sempit. Kerja harus jelas. Jabatan harus spesifik. Penghasilan harus bisa dipamerkan diam-diam lewat gaya hidup. Jadi begitu jawaban kita tidak masuk template itu, langsung muncul rasa ragu. “Ini cukup gak ya?” Padahal, siapa juga yang bikin template itu?
Banyak yang memilih menghindar. Mengalihkan topik. Jawab seadanya, lalu cepat-cepat balik nanya orang lain. Bukan karena tidak jujur, tapi karena lelah menjelaskan sesuatu yang bahkan diri sendiri masih coba pahami. Kadang kita cuma butuh waktu—bukan pembenaran.
Dan mungkin yang jarang disadari: tidak semua perjalanan harus terdengar impresif untuk jadi valid. Ada proses yang memang tidak instagrammable, tidak bisa diringkas dalam satu kalimat keren. Tapi tetap berjalan. Tetap berkembang. Meski pelan, meski sunyi.
Mungkin suatu hari nanti, pertanyaan itu tidak lagi terasa menakutkan—bukan karena jawabannya berubah drastis, tapi karena cara kita melihatnya yang akhirnya lebih jujur.
Photo by Priscilla Du Preez 🇨🇦 on Unsplash
