MOVE ON, KENANGAN MASA LALU MEMANG SELANJUTNYA DILUPAKAN

Dulu, kita punya kemewahan untuk menjadi anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Sekarang? Kita dipaksa menyaksikan bagaimana geografi masa kecil dibantai secara sistematis atas nama efisiensi ekonomi. Tempat-tempat yang dulu menjadi saksi bisu lutut berdarah dan tawa lepas kini sudah dipoles, dibeton, dan diberi label harga. Lucu memang, melihat bagaimana memori kita bisa mendadak jadi "tuna wisma" karena tanah yang kita pijak tidak lagi mengenali pemilik lamanya.

Lihat saja lapangan rumput liar tempat kita mengejar bola plastik sampai napas habis itu. Sekarang, ia telah berevolusi menjadi diler kendaraan dengan lantai keramik putih yang menyilaukan mata. Alih-alih bau keringat dan debu, yang tercium adalah aroma pembersih lantai dan ambisi sales mengejar target bulanan. Di sana, di titik tempat kita dulu melakukan selebrasi gol imajiner, kini terparkir mobil keluaran terbaru yang harganya cukup untuk membuat kita menangis di pojok kamar.

Nasib sungai kita lebih ironis lagi. Ingat bagaimana airnya menjadi penyelamat saat kita menunggu beduk Magrib di bulan Ramadan? Dulu, riaknya adalah musik latar untuk cerita-cerita konyol tentang hantu air. Sekarang, aliran itu entah disumbat atau dipaksa mengalah demi lapangan olahraga padel yang estetik. Padel. Sebuah olahraga yang bahkan kita tidak tahu cara mengejanya saat masih kecil, kini berdiri pongah di atas bekas tempat kita mencari ikan cetul. Modernitas memang punya selera humor yang gelap.

Lalu, sudut lapangan yang dulu menjadi "stadion" suci untuk sepak bola sore hari telah berubah menjadi restoran mewah dengan desain minimalis yang mengintimidasi. Di sana, orang-orang duduk rapi, memesan seporsi makanan yang harganya setara dengan gaji UMR kabupaten. Sebuah piring kecil berisi seni kuliner yang harganya bisa membiayai kebutuhan makan kita selama sebulan di masa sekolah dulu. Rasanya seperti ada ironi yang menusuk saat menyadari bahwa tanah yang dulu kita injak dengan kaki telanjang kini hanya bisa diakses oleh mereka yang dompetnya tebal.

Perubahan ini tidak meminta izin. Ia datang dengan ekskavator dan cetak biru pembangunan, menghancurkan setiap koordinat kenangan tanpa sisa. Kita mencoba menghubungkan cerita lama dengan pemandangan baru, tapi gagal total. Tidak ada jembatan emosional antara diler mobil dan gol kemenangan, atau antara lapangan padel dan tradisi "ngabuburit" di pinggir kali. Semuanya terasa asing. Seperti mengunjungi rumah mantan yang sudah direnovasi total dan ditinggali orang yang tidak kita kenal.

Kita sering berkata bahwa kenangan itu abadi, padahal itu hanyalah penghiburan diri yang payah. Kenangan butuh pemicu fisik, dan saat pemicunya dihancurkan, memori itu mulai memudar, kehilangan ketajamannya, lalu perlahan terhapus. Kita dipaksa untuk menjadi turis di kampung halaman sendiri, menatap bangunan-bangunan kotak tanpa jiwa sambil bergumam, "Dulu di sini ada pohon mangga," seolah-olah kita sedang menceritakan dongeng sebelum tidur yang tidak masuk akal.

Selamat tinggal pada masa kecil yang kini dikomersialisasi. Ruang-ruang publik yang dulu inklusif dan gratis kini telah dipagari dan diberi tarif masuk. Kita diminta untuk move on, untuk menerima bahwa beton lebih berharga daripada nostalgia, dan bahwa investasi properti jauh lebih penting daripada sejarah personal seorang bocah ingusan. Pahit? Memang. Tapi setidaknya kita tahu bahwa kenangan kita pernah nyata, meski sekarang ia hanya hidup di ruang hampa yang siap dihapus oleh waktu.

Dunia memang tidak berutang apa pun pada masa kecil kita. Ia terus berputar, membangun gedung-gedung yang lebih tinggi dan kafe-kafe yang lebih mahal, sambil perlahan-lahan mengubur sisa-sisa diri kita yang dulu pernah bahagia hanya dengan sebiji bola plastik dan aliran sungai yang keruh. Nikmatilah pemandangan baru itu, karena sebentar lagi, bahkan rasa sedih ini pun akan dianggap tidak relevan.

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama