PALING TIDAK AKU BERGUNA MENJADI TEMPAT SAMPAH KELUH KESAH MEREKA.

 

PALING TIDAK AKU MASIH BERGUNA MENJADI TEMPAT SAMPAH KELUH KESAH MEREKA

Gerimis di sore itu tidak pernah benar-benar romantis bagi orang yang hatinya sudah lama basah oleh air mata sendiri. Lelaki itu berjongkok, jemarinya mengusap lumut yang mulai berani memanjat permukaan batu dingin di depannya.

"Diam itu benar, kan?" suaranya pecah, bersaing dengan bunyi klakson jauh di luar pagar pemakaman yang macetnya tidak pernah tuntas.

Dia tertawa kecil, suara yang lebih mirip gesekan amplas pada kayu tua. Baginya, kenyataan bahwa tidak ada yang peduli selama dia bernapas adalah hukum alam yang mutlak. Selama puluhan tahun, dia menjadi people pleaser ulung—sebuah peran yang dia pilih bukan karena suci hati, tapi karena itu adalah benteng paling aman. Menjadi pelayan bagi ego orang lain membuatnya punya alasan untuk lupa betapa berantakannya isi kepalanya sendiri. Setidaknya, dengan sibuk memikirkan kenyamanan orang, dia tidak punya waktu untuk meratapi nasibnya yang kering kerontang.

"Paling tidak, aku berguna untuk menjadi tempat sampah keluh kesah mereka," bisiknya lagi, menatap tajam ke arah tulisan yang mulai memudar di permukaan nisan.

Ada kebanggaan sarkas di sana. Dia bertahan hidup dengan topeng yang dipahat sempurna. Memastikan semua orang pulang dengan senyum, sementara dia pulang dengan lubang di dada yang semakin menganga. Baginya, keselamatan ada pada kepatuhan. Keamanan ada pada ketiadaan konflik.

Lelaki itu kemudian bangkit, membetulkan letak kemejanya yang lusuh. Dia melihat namanya sendiri terukir di sana. Tanggal lahir, tanggal wafat—semuanya presisi. Dia tidak terlonjak kaget. Tidak ada drama jatuh terduduk atau teriakan histeris layaknya film horor kelas bawah.

Dia hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat kering, sangat terpaksa, dan masih membawa sisa-sisa kebiasaannya untuk menyenangkan siapa pun yang melihat. Dia sadar, bahkan dalam kematian pun, dia masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa perannya sebagai pengamat nasibnya sendiri adalah keputusan terbaik. Dia berbalik, menghilang di antara nisan-nisan lain, meninggalkan dunianya yang sudah lama selesai sebelum benar-benar dimulai.

Photo by James Kovin on Unsplash  

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama