| Dengarkan ini nak.. |
Dunia sering mendewakan kata-kata manis, padahal cinta paling murni justru lahir dari mulut yang bungkam. Ayahmu mungkin bukan tipe yang akan mengirim pesan teks penuh emotikon hati atau menanyakan perasaanmu setiap jam. Tapi lihatlah tangannya. Perhatikan kerut di dahinya saat dia memikirkan cicilan atau masa depanmu yang belum jelas. Cinta pria itu tidak ada di kata-kata, tapi ada di setiap peluh yang mengering di kemeja kerjanya. Dia menukar sisa hidupnya demi kenyamanan yang hari ini kamu anggap biasa saja.
Lucu bagaimana kita sering menganggap keberadaan mereka sebagai sesuatu yang permanen. Kita merasa mereka akan selalu ada di sana, duduk di kursi yang sama, memberikan nasehat yang kadang kita abaikan. Padahal, setiap kali kamu berulang tahun, itu bukan sekadar perayaan bertambahnya usia bagimu. Itu adalah peringatan bahwa kontrak waktunya di dunia ini sedang menuju halaman terakhir. Kita merayakan pertumbuhan, sementara dia sedang mengelola penyusutan.
Jangan tertipu oleh senyumnya yang terlihat kokoh. Dia tetap bekerja bukan karena dia mencintai tekanan kantor atau debu jalanan, tapi karena dia takut kamu merasakan sedikit saja kekurangan yang pernah dia rasakan dulu. Ego seorang ayah itu aneh. Dia rela terlihat lemah di mata dunia asal di matamu dia tetap menjadi gunung yang tak runtuh. Dan kita, dengan naifnya, sering kali lupa untuk sekadar bilang terima kasih karena terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri.
Jadilah manusia yang tahu diri. Itu saja. Kuatlah bukan karena ingin pamer, tapi karena suatu saat nanti, pundak yang selama ini menopangmu akan benar-benar hilang dari jangkauan. Menghargai bukan berarti harus memberikan barang mewah. Cukup dengan tidak menjadi alasan tambahan bagi kepalanya untuk berdenyut lebih kencang. Setidaknya, buatlah dia merasa bahwa segala lelah dan waktu yang dia korbankan tidak jatuh ke tangan orang yang salah.
Satu titik nanti, kamu akan pulang dan hanya menemukan keheningan. Kursi itu akan kosong, dan aroma kopi yang biasa menyapa tidak akan ada lagi. Kamu mungkin akan mencari-cari bayangannya di setiap sudut rumah, berharap dia muncul hanya untuk mengeluh soal politik atau cuaca. Tapi kenyataannya, suara itu sudah menetap di ingatan. Di momen itu, kamu akan tersadar bahwa kehilangan bukan tentang kepergian, tapi tentang selesainya sebuah misi panjang.
Ingatlah ini baik-baik: dia tidak benar-benar meninggalkanmu sendirian. Dia hanya sudah selesai menjalankan seluruh hidupnya khusus untukmu. Semua yang ada padamu hari ini—pendidikanmu, karaktermu, bahkan caramu tertawa—adalah fragmen dari dirinya yang sengaja dia titipkan. Saat cintanya "selesai" di dunia, dia sebenarnya telah berpindah untuk hidup selamanya di dalam setiap langkah yang kamu ambil. Jadi, pastikan langkahmu itu layak untuk diperjuangkan.