| Mari kita bicara dengan jujur.. |
Sosok seperti gubernur jendral jaman VOC jaman dulu yang semena-mena kepada bangsa pribumi, setidaknya itu yang "diceritakan" oleh buku cetak waktu ayah masih sekolah dulu.
Seolah-olah ada kepuasan tersendiri bagi seorang pria dewasa untuk melihat anaknya cemberut di pojok kamar. Padahal, jujur saja, memerankan karakter jahat itu melelahkan. Tidak ada ayah yang bangun pagi lalu berpikir, "Hari ini aku ingin membuat anakku membenciku." Tidak ada.
Tapi mari kita bicara jujur. Ketegasan itu sebenarnya adalah produk dari rasa takut yang disamarkan dengan baik. Ayah itu ketakutan setengah mati. Takut kalau suatu saat nanti—saat punggungnya sudah terlalu bungkuk untuk menjagamu—dunia akan mengunyahmu hidup-hidup karena kamu terlalu lembek. Dunia tidak peduli dengan perasaanmu, dan ayah tahu itu lebih baik dari siapa pun. Makanya, dia lebih memilih menjadi samsat amarahmu sekarang daripada membiarkan hidup menghancurkanmu tanpa ampun nanti.
Ada kutipan dari Machiavelli yang bilang bahwa lebih baik ditakuti daripada dicintai, jika kamu tidak bisa mendapatkan keduanya. Ayah mungkin tidak baca The Prince, tapi dia mempraktikkannya secara insting. Baginya, cinta yang memanjakan itu seperti memberi permen pada orang yang sedang kelaparan di tengah hutan; manis di lidah, tapi tidak memberi tenaga untuk lari dari predator. Ketegasan adalah latihan militer mental yang dia berikan padamu secara cuma-cuma, meski bayarannya adalah jarak yang membentang di antara kalian.
Mungkin kalian pikir aturan jam malam atau larangan pergaulan tertentu itu kolot. Kuno. Tidak relevan. Tapi coba pikir lagi—seberapa sering kalian melihat orang tua yang "santai" malah berakhir melihat anaknya hanyut dalam kekacauan? Ayah tidak mau berjudi dengan masa depanmu. Dia lebih suka melihatmu menangis di hadapannya hari ini karena dilarang pergi, daripada harus menjemputmu di kantor polisi atau rumah sakit dengan hati yang hancur berkeping-keping besok pagi. Itu pilihan yang logis, meski tidak populer.
Pada akhirnya, ruang antara suara keras ayah dan air matamu adalah tempat di mana karakter sedang ditempa. Memang sakit. Memang panas. Tapi besi tidak akan jadi pedang yang tajam kalau tidak dipukul berulang kali di atas bara api. Kelak, saat kamu berdiri tegak menghadapi badai hidup tanpa perlu pegangan tangan siapa pun, kamu akan sadar. Ternyata, "kekejaman" ayahmu adalah warisan paling berharga yang pernah dia berikan. Dia tidak sedang menghukummu; dia sedang mempersenjatimu.
Jadi, silakan saja simpan dendam kecil itu di bawah bantal. Ayah tidak keberatan menjadi orang jahat dalam ceritamu hari ini, asalkan kamu tetap menjadi pemenang dalam ceritamu sendiri di masa depan. Cukup adil, kan?