MEMUTAR SENYUM BERSAMA NARASI USANG

Ada jenis manusia yang datang dengan senyum terlalu lebar, begitu simetris hingga terasa seperti hasil setrikaan uap. Mereka bergerak dengan soft force—sebuah pemaksaan halus yang dibungkus perhatian, seolah-olah setiap saran mereka adalah wahyu yang turun dari langit ketujuh. Padahal, kita tahu itu cuma cara elegan untuk bilang bahwa pendapat orang lain hanyalah gangguan sinyal. 

Orang-orang ini punya stok kata-kata manis yang saking lengketnya bisa bikin penderita diabetes mendadak pingsan. Mereka bicara paling lama, memonopoli oksigen di ruangan, dan merasa setiap silabel yang keluar dari mulut mereka adalah nutrisi bagi kecerdasan kita yang dianggap medioker. Melelahkan? Jelas. Tapi bagi mereka, itu adalah pelayanan publik.

Lucunya, di balik jubah "tahu segalanya" itu, mereka sebenarnya sedang melakukan perjalanan waktu yang menyedihkan. Mereka terjebak dalam delusi masa lalu, mengelus-elus artefak kejayaan yang sudah berdebu sementara realita sudah lari maraton meninggalkan mereka. Ini adalah simfoni post power syndrome yang dimainkan dengan instrumen rasa tidak aman. Mereka butuh pengakuan seperti manusia butuh air, maka mereka menciptakan narasi bahwa mereka masihlah sang kapten, meski kapalnya sudah lama tenggelam dan berubah jadi terumbu karang. 

Tragis. Benar-benar sebuah puisi tentang keputusasaan yang dipoles dengan gincu otoritas palsu.

Masalahnya, orang-orang ini lupa kalau sejarah itu ditulis oleh pemenang yang relevan, bukan oleh mereka yang cuma jago bernostalgia sambil memaksa orang lain mengangguk. Senyum permanen itu sebenarnya adalah masker untuk menutupi ketakutan akan dilupakan. Mereka takut kalau berhenti bicara sebentar saja, dunia akan sadar bahwa kehadiran mereka tidak sepenting itu. 

Jadi, mereka terus berkicau, terus tersenyum hingga otot wajah kaku, dan terus mengatur hidup orang lain dengan jempol yang sebenarnya sudah gemetar. Sebuah pertunjukan ego yang kolosal, namun sayangnya, penontonnya sudah lama pulang karena bosan dengan skrip yang itu-itu saja.

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama