DISTRIBUSI KEBAHAGIAAN DAN MONOPOLI PENDERITAAN


Bahwa hidup laki-laki dewasa tak lebih dari sekadar algoritma komputer yang rusak? Kita bangun bukan karena semangat mengejar mimpi, tapi karena alarm ponsel berbunyi dengan nada yang lebih mengancam daripada debt collector. Bangun untuk bekerja, lalu tidur hanya agar sel-sel tubuh tidak melakukan demonstrasi besar-besaran sebelum besoknya kembali ke pabrik, kantor, atau aspal jalanan. Kita adalah makhluk yang secara biologis dirancang untuk menjadi penopang, namun secara sosial dipaksa untuk menjadi robot yang lupa di mana letak tombol 'off' nya.

Realitasnya, laki-laki adalah departemen logistik yang paling buruk dalam mengelola inventaris emosi. Saat ada bonus cair atau sedikit keberuntungan mampir, kita akan segera memanggil seluruh anggota keluarga atau teman-teman untuk merayakannya—seolah-olah kebahagiaan itu adalah barang panas yang harus segera dibagikan sebelum kita dianggap egois. Kita menjadi kedermawanan yang berjalan, memastikan piring orang lain penuh, sementara piring kita sendiri seringkali hanya berisi sisa-sisa ekspektasi yang mulai mendingin. Di media sosial, kita mungkin terlihat seperti pemenang, namun di balik layar, kita hanyalah kurir yang sedang mengantar paket kebahagiaan ke alamat orang lain.

Namun, giliran rasa sakit, kegagalan, atau encok yang mulai menyerang punggung bawah, tiba-tiba kita berubah menjadi penganut stoikisme yang paling fanatik. Sakit dan susah adalah properti pribadi yang bersifat top secret. Kita menikmatinya sendiri di pojokan kamar mandi atau di dalam helm saat macet, seolah-olah berbagi kesedihan akan membuat kita kehilangan keanggotaan dalam "Klub Laki-Laki Sejati". Kita lebih memilih didiagnosis stres akut daripada harus mengakui pada pasangan bahwa kita sedang merasa takut tidak bisa membayar tagihan bulan depan. Rasa perih itu kita kunyah pelan-pelan, ditelan bersama kopi hitam pahit, karena entah kenapa, kita merasa bahwa penderitaan yang tidak dipublikasikan adalah bentuk maskulinitas tertinggi.

Mungkin memang begitulah desainernya merancang kita: sebuah wadah yang cukup luas untuk menampung keluhan orang lain, namun terlalu sempit untuk mengeluarkan keluhan sendiri. Kita terus berjalan, mengoleksi lelah seperti mengoleksi poin kartu kredit yang tidak pernah bisa ditukar dengan ketenangan batin. Jadi, besok pagi saat kalian bangun lagi untuk menjalani siklus yang sama, ingatlah bahwa kalian tidak sedang menjalani hidup, kalian sedang melakukan simulasi menjadi pilar bangunan. Dan pilar, setahu saya, tidak pernah minta dipijat atau ditanya "kamu kenapa?", ia hanya diharapkan untuk tetap berdiri tegak sampai atapnya memutuskan untuk runtuh dengan sendirinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Sekali lagi artikel yang unik menjadi pemenangnya

BERAPA BANYAK PELAUT YANG BISA NAHAN BUANG AIR KECIL SELAMA 19 JAM ?

ANTARA SELAT HORMUZ, WAYLAND UBUNTU 7, KEGAGALAN INVASI MONGOL DI TANAH JAWA, DAN KEKHAWATIRAN MINYAK DUNIA MENCAPAI 100 DOLAR

Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain

Google Hack Search Engine

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

JEJAK DIGITAL KITA YANG TERBUKA LEBAR

MENGAPA KATA BERUBAH ADALAH JEDA IKLAN SEMATA

Seni Menjadi "Finisher": Karena Ide Tanpa Eksekusi Hanyalah Halusinasi