KENAPA LAKI-LAKI LEBIH MEMILIH HANCUR DALAM DIAM.
Ada sebuah ironi yang cukup memuakkan soal laki-laki dan botani. Kita seringkali baru benar-benar "menerima" bunga saat raga sudah membeku di dalam peti atau terbungkus kain kafan. Itu pun, kita tidak punya kesempatan untuk sekadar menghirup aromanya atau mengagumi kelopaknya. Tragis. Selama hidup, tangan laki-laki lebih akrab dengan gagang cangkul, setir kendaraan, atau keyboard yang panas karena lembur, demi memastikan dapur orang lain tetap mengepul. Bunga dianggap terlalu feminin, terlalu lemah, atau mungkin terlalu mahal untuk sebuah apresiasi yang "tidak fungsional". Kita ini hanya dihargai selama masih bisa berfungsi—seperti mesin cuci atau dispenser. Begitu mesinnya rusak, dunia baru menyadari betapa pentingnya alat itu.
Lelaki yang masih bernapas itu dianggap selalu baik-baik saja selama cicilan lunas dan tanggung jawab terpenuhi. Standar keberhasilan kita sesederhana itu: ketahanan. Jika kamu masih bisa berdiri tegak setelah dihantam badai ekonomi atau tekanan kerja yang tidak masuk akal, orang akan menepuk bahumu dan bilang "bagus". Padahal, di balik jas atau kaos oblong yang berkeringat itu, ada retakan yang makin hari makin lebar. Tapi siapa yang peduli pada retakan selama bangunannya belum roboh? Seperti kata Oscar Wilde, "The world is a stage, but the play is badly cast." Dan kita dipaksa memerankan sosok pilar yang dilarang goyah, bahkan saat fondasinya sudah keropos dimakan usia dan ekspektasi.
Lalu, coba tanyakan pada mereka saat berada di titik nadir: "Siapa tempatmu mengadu?" Jawabannya hampir selalu menyedihkan—tidak ada. Bukan karena tidak punya teman nongkrong, tapi karena kita diajarkan bahwa kerentanan adalah aib. Mengaku lelah dianggap sebagai pengkhianatan terhadap maskulinitas. Kita lebih memilih menelan mentah-mentah rasa pahit itu sendirian di parkiran motor atau di pojok kamar mandi yang gelap. Kenapa? Karena menjadi laki-laki berarti menjadi soliter dalam penderitaan. Kita takut kalau kita terbuka, dunia akan melihat kita sebagai beban, bukan lagi sebagai pelindung. Jadi, kita diam. Sampai benar-benar diam selamanya.
Maka jangan heran kalau bunga di pemakaman itu terasa seperti penghinaan yang terlambat. Ribuan kelopak mawar atau krisan yang cantik itu tidak ada gunanya bagi orang yang sudah kehilangan indra penciumannya. Kenapa harus menunggu ajal menjemput hanya untuk memberikan simbol keindahan? Dunia ini memang pelit apresiasi pada proses, tapi sangat royal pada seremoni kematian. Padahal, mungkin saja satu tangkai bunga sederhana dan kalimat "kamu sudah berjuang dengan hebat" saat dia masih hidup, jauh lebih bermakna daripada karangan bunga raksasa yang menumpuk di gundukan tanah basah. Tapi ya sudah, mungkin itu harga yang harus dibayar untuk menjadi "pilar" yang kaku.
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...