LELAKI MENDAPATKAN BUNGA PERTAMANYA SAAT TIDAK MAMPU MENIKMATI HARUM DAN INDAHNYA


Satu-satunya momen di mana seorang laki-laki benar-benar dikelilingi bunga tanpa perlu merasa "lembek" adalah saat dia sudah tidak bisa lagi mencium baunya? Ironisnya, dunia seolah sepakat bahwa cara terbaik untuk menghargai eksistensi seorang pria adalah dengan menunggunya berhenti bernapas. Kita hidup di dunia di mana nilai seorang laki-laki sering kali diukur lewat saldo rekening atau seberapa tebal pundaknya menahan beban, bukan lewat perasaan yang (katanya) tidak boleh dia miliki.

Bayangkan saja, sejak kecil kita dididik untuk menjadi mesin multifungsi yang tidak butuh oli cadangan. Laki-laki adalah makhluk yang diciptakan untuk memikul tanggung jawab sebesar gunung, namun saat gunung itu sedikit bergeser, kitalah yang pertama kali dicap sebagai penyebab gempa bumi. Di rumah, kita adalah "Bank Berjalan" atau "Tukang Reparasi Galau"; di kantor, kita adalah "Baut Mesin Kapitalis". Jika segalanya berjalan mulus, itu sudah kewajiban. Jika ada satu sekrup yang lepas? Nah, di situlah letak keahlian wanita dalam melakukan audit kesalahan secara historis, dari zaman prasejarah hubungan hingga tadi pagi saat lupa menaruh handuk. Kita adalah satu-satunya makhluk yang bisa disalahkan atas pemanasan global hanya karena lupa mematikan lampu kamar mandi.

Nilai sejati seorang laki-laki sering kali baru terungkap lewat pidato pemakaman yang penuh air mata buaya dan penyesalan retroaktif. Tiba-tiba saja, si "laki-laki keras kepala yang susah dibilangin" ini berubah menjadi "pilar keluarga yang tak tergantikan". Kenapa apresiasi itu harus menunggu tanah makam basah? Mungkin karena bagi dunia, laki-laki yang masih hidup hanyalah tumpukan ekspektasi yang belum lunas ditagih. Kita baru dianggap berharga setelah beban itu dipindahkan ke pundak orang lain, atau setelah kita memberikan pengabdian terakhir berupa uang asuransi jiwa yang akhirnya bisa membuat orang-orang tercinta tersenyum—sambil memegang buket bunga di atas nisan kita.

Mungkin itulah kontrak sosial tak tertulis yang kita tandatangani saat lahir: menjadi tempat sampah untuk segala keluhan dan menjadi pahlawan hanya saat sudah jadi kenangan. Jadi, bagi kalian yang masih berjuang di luar sana, jangan terlalu berharap akan ada karangan bunga mawar di meja kerja atau pujian tulus saat kalian berhasil membayar cicilan tepat waktu. Nikmatilah peran sebagai "tersangka abadi" ini dengan kepala tegak, karena setidaknya, nanti di pemakaman, kalian akhirnya akan mendapatkan bunga pertama kalian—meskipun kalian sudah terlalu lelah untuk sekadar berterima kasih. Atau mungkin, apakah kita memang harus mati dulu agar suara kita tidak lagi dianggap sebagai gangguan frekuensi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Sekali lagi artikel yang unik menjadi pemenangnya

BERAPA BANYAK PELAUT YANG BISA NAHAN BUANG AIR KECIL SELAMA 19 JAM ?

ANTARA SELAT HORMUZ, WAYLAND UBUNTU 7, KEGAGALAN INVASI MONGOL DI TANAH JAWA, DAN KEKHAWATIRAN MINYAK DUNIA MENCAPAI 100 DOLAR

Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain

Google Hack Search Engine

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

JEJAK DIGITAL KITA YANG TERBUKA LEBAR

MENGAPA KATA BERUBAH ADALAH JEDA IKLAN SEMATA

Seni Menjadi "Finisher": Karena Ide Tanpa Eksekusi Hanyalah Halusinasi