WAHANA ROLLER COASTER HORMONAL
Suatu hari, kalian bangun tidur dan merasa bahwa suara sendok yang beradu dengan piring adalah sebuah pernyataan perang? tidak ada alasan logis. Tidak ada pemicu besar. Tapi hari itu, kalian adalah bom waktu yang berjalan dengan sumbu pendek yang sudah terbakar setengahnya. Kalian marah pada lampu merah yang terlalu lama, kalian marah pada aplikasi yang loading, bahkan mungkin kalian marah pada oksigen karena rasanya terlalu tipis. Namun, sebelum bom itu meledak, tiba-tiba -nyut!- semuanya berubah menjadi rasa sedih yang begitu kolosal, seolah kalian adalah satu-satunya manusia yang tertinggal di bumi setelah kiamat kecil terjadi di dalam kepala kalian.
Glitch emosional; ketika dunia terasa seperti musuh dalam selimut.
Fenomena "marah-marah tanpa sebab" ini sebenarnya adalah cara elegan otak kita untuk bilang "saya capek, tapi saya engga tahu cara ngomongnya" Kita sering menyebutnya sebagai sensitivitas, tapi sejujurnya, ini lebih mirip seperti software yang sedang crash. Begitu amarah yang tidak jelas tujuannya itu menguap, yang tersisa adalah lubang hitam bernama kesedihan. Di titik inilah narasi "World Against Me" mulai diputar. Tiba-tiba, setiap chat yang tidak dibalas dalam dua menit terasa seperti pengkhianatan, dan seiap tawa orang dari kejauhan terasa seperti ejekan khusus unutk kemalangan kita. Kta menjadi protagonis dlaam film drama beranggaran rendah yang judulnya "Saya, Kesepian, dan Dunia yang Jahat"
Keajaiban dari kondisi ini adalah betapa "rapuhnya" logika kita saat itu. Kita tahu, secara teori, dunia tetap berputar seperti biasa. Matahari tidak berhenti bersinar hanya untuk membuat kita kesal. tapi secara emosional ? kita merasa seperti porselen retak yang sedang berdiri ditangah badai, kita merasa sangat sendiri, seolah-olah seluruh kontak yang ada di ponsel kita hanyalah pajangan digital yang tidak akan pernah mengerti betapa beratnya beban memikirkan hal-hal yang bahkan kita sendiri tidak tahu apa itu. Kita mencari sandaran, tapi saat ada yang mendekat, duri-duri amarah kita malah otomatis tegak berdiri. Sebuah kontradiksi yang sangat manusiawi, sekaligus sangat melelahkan unutk dijalani sendirian.
Hari-hari seperti ini menang ada bukan untuk dimengerti, tapi untuk di lewati. Mungkin ini adalah cara alam semesta memaksa kita untuk berhenti sejenak dan mengakui bahwa kita bukan robot yang selalu punya jawaban atas setiap perasaan. Jadi, jika hari ini kalian meraa dunia sedang bersekongkol melawan kalian, mungkin mereka memang sedang melakukannya -atau mungkin, kalian hanya perlu tidur lebih awal, minum air putih, dan berhenti mendengarkan lagu galau di spotify.
Lagipula, bukahkah sedikit drama pribadi itu perlu agar hidup kita tidak terasa seperti instruksi manual mesin cuci yang datar-datar saja ? Besok kita coba lagi jadi manusia normal yu ?
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...