Gengsi Setinggi Langit, Skill Setipis Tisu
Pura-Pura Mandiri Adalah Jalan Ninja Menuju Jalan Buntu.
Suatu waktu kalian didatangi teman yang tiba-tiba bertanya tentang struktur molekul kafein padahal dia cuma admin toko kelontong? Atau mendadak sok filosofis menanyakan "menurutmu, apakah algoritma itu bersifat deterministik?" padahal sebenarnya dia cuma bingung cara log in ke akun emailnya sendiri? Kita semua tahu kode itu. Itu bukan rasa ingin tahu intelektual; itu adalah sinyal SOS dari seseorang yang kapalnya sedang bocor, tapi merasa terlalu keren untuk memakai pelampung yang kita sodorkan.
Mengapa Meminta Maaf Lebih Mudah daripada Mengakui Kalau Kamu Nggak Tahu Cara Pakai Excel?
Fenomena "Gengsi-Preneur" ini memang unik. Mereka tidak akan pernah bilang, "Bro, tolong ajarin gue ini dong," karena itu akan merusak citra mereka sebagai manusia serba tahu yang mereka bangun di Instagram. Sebaliknya, mereka akan melemparkan pertanyaan umpan yang tidak masuk akal, berharap kita—dengan keajaiban telepati—langsung mengambil alih keyboard mereka dan menyelesaikan seluruh pekerjaan tersebut. Ini bukan lagi soal mencari solusi, tapi soal mencari tumbal. Menolong orang seperti ini rasanya seperti memberi makan merpati di taman; sekali kita bantu kerjakan, besok mereka kembali bukan untuk belajar terbang, tapi untuk menunggu remahan roti (baca: hasil kerja gratisan) berikutnya.
Seni Bertanya Tanpa Bertanya: Panduan Bagi Kamu yang Gengsinya Lebih Besar dari Tagihan Paylater.
Masalahnya, membantu tipe "Malas Belajar tapi Sok Elit" ini adalah investasi bodong yang paling nyata. Mereka menganggap bantuan kita sebagai fitur outsourcing_cuma-cuma. Saat kita memberikan pancingan, mereka malah minta kita yang memancing, membakar ikannya, bahkan menyuapkannya ke mulut mereka, sambil tetap berakting seolah-olah mereka adalah kapten kapal yang handal. Di dunia yang serba cepat ini, menjadi munafik dengan mengatakan "aku tidak butuh siapa-siapa" saat sedang megap-megap adalah olahraga ekstrem yang paling tidak berfaedah.
Kamus Bahasa Kalbu: Mengartikan Pertanyaan Absurd Teman yang Sebenarnya Sedang 'Tenggelam'.
Mungkin membiarkan mereka tersesat sebentar di labirin kebingungan buatannya sendiri adalah bentuk kasih sayang yang paling jujur yang bisa kita berikan. Toh, di titik tertentu, realita akan selalu lebih keras daripada harga diri yang dipaksakan. Lagipula, bukankah menonton seseorang mencoba terlihat tenang saat sebenarnya mereka sedang mencoba memadamkan api di dapur dengan sendok teh adalah hiburan gratis yang cukup berkualitas untuk sore yang membosankan?
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...