MENGAPA KATA BERUBAH ADALAH JEDA IKLAN SEMATA


Merasa sedang berbicara dengan seekor goldfish yang baru saja menjalani prosedur lobotomi. Sudah dikirim email, menelepon, meninggalkan pesan suara, bahkan mungkin sinyal asap dan sandi morse dan tanda smapur, namun saat dikonfirmasi lawan bicara kalian hanya menatap dengan mata kosong yang murni tanpa dosa sambil berucap. "Hah, emang iya ?". Ini bukan sekedar masalah daya ingat yang buruk; ini adalah sebuah bentuk seni pertunjukan tingkat tinggi di mana seseorang memilih untuk menjadi bebal secara sukarela demi menghindari sesuatu yang bernama tanggung jawab.

Resep awet muda; pura-pura lupa agar tidak perlu tanggung jawab.

Fenomena "pura-pura tidak tahu" ini biasanya hanyalah gerbang pembuka dari sebuah sirkus kebohongan yang lebih megah. Begitu, mereka terpojok oleh bukti digital (seperti hari skrinsut yang di simpan dengan rapi di folder 'bukti dosa'), mereka tidak akan menyerah. Sebaliknya, mereka akan membangun manara kartu kebohongan baru untuk menutupi lubang sebelumnya. Ini seperti mencoba menambal ban bocor dengan permen karet; terlihat tertutup sebentar, lalu meletus lagi saat tekanan mulai tinggi. Di titik ini, kejujuran sudah menjadi barang langka yang lebih mahal dari pada harga bensin non-subsidi.



Yang paling menggemaskan adalah momen "tobat sambal" yang menyertainya. Saat argumen mereka sudah rontok dan tak ada lagi celah untuk lari, keluarlah kalimat pemungkas; "Saya janji akan berubah." kalimat ini sebenarnya bukan sebuah komitmen, melainkan tombol pause agar kalian berhenti mengomel. Jangan tertipu oleh akting melankolis seperti itu. Begitu situasi mereda, dan kopi kalian sudah dingin, mereka akan kembali ke "settingan awal" -seperti aplikasi ponsel yang baru di-factory reset. Mereka tidak akan berubah; mereka hanya kan melakukan rebranding murahan kegagalan yang sama dnegan kemasan yang sedikit lebih rapih, sampai akhirnya kita sadar bahwa mempercayai mereka sama saja dengan istilah "Ngungudag kalangkang heula" (mengejar bayangan burung elang/sia-sia)

Di ujung cerita, kita hanya bisa menonton pertunjukan ini sambil bertanya-tanya; berpaa banyak energi yang dihabiskan seseorang untuk memelihara kebohongan yang bertumpuk-tumpuk dibandingkan dengan sekadar melakukan apa yang diminta sejak awal? 

Mungkin bagi sebagian orang, hidup tanpa drama itu membosankan, atau mungkin menjadi jujur itu terlalu berat bagi mereka yang tulang punggungnya terbuat dari jeli. 

Nikmati saja perubahan mereka yang terbaru, sambil menyiapkan camilan untuk melihat kapan skrip yang sama akan diputar ulang minggu depan. Kira-kira kali ini alasan apa lagi yang akan mereka pakai saat pura-pura kalau mereka sudah pernah berjanji untuk tidak lupa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Tombol yang Tidak Ditekan: Tentang Keputusan Kecil dan Tanggung Jawab Moral

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

Kotoran Burung & Lampu Mati: Selamat Datang di Kekacauan India Open 2026

Marketing di Atas Luka: Seni Memanfaatkan Musibah Menjadi Cuan.

LELAH TAK KUNJUNG USAI

Kekuatan Tidak Datang dari Langit

Mau sampai kapan menjadi penonton sombong ?