Seni Menjadi Orang yang Selalu Ada


Seperti sedang menumpang kapal pesiar mewah yang mesinnya keren, nakhodanya vokal, tapi kompasnya dibuang ke laut karena dianggap 'terlalu administratif'? Itulah rasanya berada di sebuah proyek modern. Semua orang sibuk berlari ke arah yang berbeda, saling menabrak, lalu tiba-tiba terdiam dan bertanya dengan nada putus asa: "Eh, kemarin kita sepakat apa, ya?". Di saat itulah, semua mata tertuju pada satu orang—sosok pendiam di pojok ruangan yang entah bagaimana punya screenshot percakapan dari tiga bulan lalu yang terkubur di bawah tumpukan revisi ke-14.

Panduan Menjadi Perpustakaan Berjalan di Tengah Kekacauan Proyek

Menjadi "orang yang selalu ada" bukanlah sebuah pilihan karier yang dicantumkan dalam brosur universitas, melainkan sebuah nasib yang diterima karena keadaan. Di saat para ahli teknis sibuk berdebat tentang algoritma dan manajer sibuk memoles presentasi, ada kita—penjaga ingatan kolektif yang tahu persis di folder mana dokumen 'Final Banget Revisi 2' disembunyikan. Kita adalah sistem imun proyek; tidak ada yang sadar kita bekerja sampai proyek itu mulai 'demam' karena kehilangan data. Kita tidak butuh panggung, kita hanya butuh orang-orang berhenti membuat keputusan di grup WhatsApp jam dua pagi tanpa mencatatnya di notulensi resmi.

Si Paling Tahu: Cara Bertahan Hidup Sebagai 'External Hard Drive' Manusia

Masalahnya, dunia kerja kita saat ini lebih memuja kecepatan daripada ketepatan. Kita bergerak dalam badai asumsi, di mana "saya pikir" lebih sering terdengar daripada "saya cek datanya". Pekerjaan kita bukan cuma merapikan tabel Excel, tapi menjahit potongan-potongan ego dan memori yang tercecer menjadi sesuatu yang bisa disebut 'progres'. Menuliskan catatan kecil seperti "Data ini masih halu, tunggu konfirmasi" sebenarnya adalah tindakan heroik yang menyelamatkan perusahaan dari jurang kerugian, meskipun bagi atasan, itu cuma dianggap sebagai 'kerajinan tangan' yang sepele.

Katalog Perasaan: Mengapa Proyek Anda Hancur Tanpa Si Penjaga Catatan?

Lucu memang, tidak pernah ada bonus tahunan atau piala bergilir bagi orang yang berhasil menemukan dokumen yang hilang dalam hitungan detik saat rapat sedang genting. Kita tetap menjadi hantu yang baru dipanggil saat butuh kunci jawaban. Namun, ada kepuasan sinis tersendiri saat melihat rekan kerja yang paling vokal mendadak pucat karena lupa kesepakatan minggu lalu, sementara kita hanya perlu menggeser kursor dan menunjukkan kebenaran yang pahit. Jadi, apakah kalian sudah siap menjadi orang yang paling dicari saat badai datang, atau kalian lebih nyaman menjadi bagian dari badai yang tidak tahu arah itu?

Membangun Monumen dari Sampah Informasi: Seni Menjadi Orang yang Selalu Ada?!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Tombol yang Tidak Ditekan: Tentang Keputusan Kecil dan Tanggung Jawab Moral

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

Kotoran Burung & Lampu Mati: Selamat Datang di Kekacauan India Open 2026

LELAH TAK KUNJUNG USAI

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain

Marketing di Atas Luka: Seni Memanfaatkan Musibah Menjadi Cuan.

JEJAK DIGITAL KITA YANG TERBUKA LEBAR

Kekuatan Tidak Datang dari Langit