Marketing di Atas Luka: Seni Memanfaatkan Musibah Menjadi Cuan.


Kita semua tahu bahwa algoritma media sosial itu kejam, tapi ternyata manusia bisa jauh lebih "satset". Baru-baru ini di Threads, ada sebuah curhatan melankolis tentang seseorang yang kena tilang dan terpaksa "bayar di tempat" dengan uang 150 ribu yang harusnya buat beli kebutuhan pokok. 

Di tengah suasana  berduka atas ketidak berdayaan pemilik dompet tersebut, muncul satu komentar yang awalnya terasa seperti empati: menyayangkan kejadiannya, lalu—tanpa transisi berarti—langsung banting setir jualan tas harga seratus ribuan lengkap dengan link affiliate. Sebuah manuver marketing yang begitu halus sekaligus kasar di saat yang bersamaan.

Uang Tilang vs. Tas Baru: Saat Empati Kalah Cepat dari Link Affiliate.

Kejadian ini membuktikan bahwa ilmu "bridging" atau jembatan konten di Indonesia sudah mencapai level yang mengkhawatirkan sekaligus mengagumkan. Si penjual tidak peduli apakah Anda sedang ditilang, putus cinta, atau kena musibah; selama ada angka yang bisa dikaitkan (dalam hal ini uang 150 ribu), maka di sana ada peluang cuan. Ini adalah bentuk optimisme tingkat tinggi yang dibalut dengan ketidakpedulian sosial yang estetik. 

"Lo rugi 150 ribu buat polisi? Nih, mending rugi 150 ribu dapet tas baru," 

mungkin begitu logika yang ada di kepala mereka.

Jangan Curhat di Threads Kalau Belum Siap Ditawari Tas Harga 150 Ribu.

Saya hanya bisa berkomentar "pinterrr..." sambil menahan tawa getir. Kita sekarang hidup di era di mana empati hanyalah sebuah gerbang masuk (pintu hook) sebelum akhirnya kita disuguhi keranjang kuning atau tautan belanja.

Tidak ada yang salah dengan berjualan, tapi eksekusi yang sebegitu "canggih" membuat kita bertanya-tanya: apakah besok-besok saat ada yang curhat kena musibah banjir, akan ada yang langsung membalas dengan link toko pelampung lucu atau promo diskon kapal pesiar?

Sepertinya kita memang harus mulai belajar dari mereka tentang cara tetap fokus pada target di tengah kekacauan dunia. Jadi, apakah ini jeniusnya strategi pemasaran masa kini, ataukah memang sudah kehilangan urat malu demi mengejar komisi per klik? 

Strategi "Pinterrr": Mengintip Sisi Gelap Kreativitas Penjual Online.


Komentar

Last 30 Days

6 APLIKASI AUDIO ANALIZER GRATISAN VERSI ANDROID !

LELAH TAK KUNJUNG USAI

Satu Tombol yang Tidak Ditekan: Tentang Keputusan Kecil dan Tanggung Jawab Moral