Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout
Bahwa detak jantung kalian sebenarnya bukan memompa darah, melainkan menghitung mundur deadline? Kita hidup di era di mana "istirahat dengan tenang" hanya dianggap valid jika status di Slack atau Teams sudah berubah menjadi offline permanen. Entah sejak kapan, memaksakan diri hingga titik darah penghabisan berubah dari sebuah tragedi menjadi sebuah medali kehormatan yang kita pamerkan di bio media sosial.
Seni Menghamba pada Jam Pasir: Ketika Tanggung Jawab Menjadi Agama Baru
Dedikasi tanpa henti itu seperti mencoba menguras samudra dengan sendok teh; melelahkan, sia-sia, tapi entah kenapa terlihat heroik di mata atasan. Kita seringkali terjebak dalam delusi bahwa dunia akan runtuh jika kita mengambil cuti sehari untuk sekadar bernapas tanpa bayang-bayang revisi. Fenomena "Hingga Detik Terakhir" ini menciptakan kasta baru dalam masyarakat: manusia-manusia yang lebih takut baterai laptopnya habis daripada sisa umurnya sendiri. Kita berkompetisi untuk menjadi yang paling lelah, seolah-olah lingkaran hitam di bawah mata adalah aksesori mewah yang membuktikan bahwa kita adalah orang penting yang tak tergantikan. Padahal, mari jujur, perusahaan hanya butuh sepuluh menit untuk memposting lowongan kerja baru jika besok lusa kita benar-benar berhenti berdenyut.
Mati Satu Tumbuh Seribu: Mengapa Kita Bangga Menjadi Tumbal Deadline?
Kita bangga menyebut ini sebagai "tanggung jawab profesional," namun seringkali ini hanyalah bentuk halus dari ketidakmampuan kita untuk berkata "cukup." Kita mengejar validasi hingga ke ujung tebing, memastikan setiap sisa energi dipersembahkan untuk membuktikan bahwa kita adalah aset yang berharga. Ironisnya, dalam proses membuktikan bahwa kita adalah mesin yang paling efisien, kita seringkali lupa cara menjadi manusia yang berfungsi normal—manusia yang tahu kapan harus berhenti sebelum mesinnya meledak dan hanya menyisakan tumpukan kertas laporan yang bahkan tidak akan dibaca di hari pemakaman kita.
Kafan Tidak Punya Kantong, Tapi Laptop Bisa Masuk Liang Lahat
Mungkin memang takdir kita adalah untuk terus berdenyut demi angka-angka di layar itu, setidaknya sampai kita menyadari bahwa perusahaan tidak menyediakan asuransi untuk jiwa yang hilang di tengah jalan. Lagipula, apa gunanya membuktikan tanggung jawab jika satu-satunya yang tersisa dari kita hanyalah sebuah _folder_ "Final_Revisi_V10" yang akhirnya tetap dihapus oleh pengganti kita bulan depan? Jadi, apakah besok kalian akan bangun untuk hidup, atau hanya untuk kembali menghitung mundur sisa denyut yang tersisa untuk kepentingan orang lain?
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...