Kita semua pernah melakukannya: bangun tidur, buka Instagram, lalu merasa tertinggal sepuluh tahun cahaya hanya karena melihat teman SMA baru saja membeli apartemen hasil dari investasi crypto atau diet ketogenik yang entah berhasil atau tidak. Kita dengan antusias menyalin "peta" mereka, mengikuti setiap langkahnya, dan berharap sampai di titik kebahagiaan yang sama. Masalahnya, kita sering lupa bahwa peta yang mereka gunakan dibuat berdasarkan medan perjalanan mereka sendiri, bukan jalan berlubang dan tanjakan curam yang sedang kita hadapi saat ini.
Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain; awalnya mungkin terlihat keren di cermin, tapi lama-lama kaki kita lecet juga. Fenomena "FOMO" dan gaya hidup copy-paste ini membuat kita menjadi turis di hidup sendiri, sibuk mencari landmark yang sebenarnya tidak ingin kita kunjungi. Kita terlalu sibuk memvalidasi apakah "pencapaian" kita sudah sesuai standar LinkedIn atau estetika Pinterest, sampai-sampai kita kehilangan insting tentang apa yang sebenarnya membuat kita merasa hidup—di luar jumlah likes dan komentar "inspiratif".
Hidup bukan tentang seberapa cepat kamu sampai di lokasi yang sedang viral, tapi tentang apakah kamu mengenali diri sendiri saat bercermin di garis finish. Tidak ada gunanya punya peta paling mutakhir milik Elon Musk kalau ternyata tujuan hati kamu cuma ingin buka toko kopi kecil di pinggir kota. Jadi, berhentilah mencoba membaca navigasi orang lain yang sinyalnya seringkali cuma gimmick.
Menurut kalian ? kalian masih sering merasa tersesat karena mencoba mengikuti rute orang lain, atau sudah mulai menggambar peta sendiri meskipun garisnya masih mencong-mencong?
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...