Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan
Produk Gagal? Bukan, Kita Adalah Edisi Terbatas yang Tahan Banting.
Ada alasan mengapa generasi ini terlihat begitu tenang saat menghadapi perubahan ekstrem: karena kita memang dibentuk oleh keterbatasan dan ditempa oleh krisis berkali-kali. Kita bukan tipe yang langsung depresi hanya karena sinyal internet hilang 10 menit, karena kita pernah hidup di era di mana "menunggu" adalah sebuah seni, bukan beban. Kita belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ada proses panjang yang harus dilalui, bukan sekadar klik checkout dan barang sampai di depan pintu.
Belajar Ulang Adalah Jalan Ninjaku: Rahasia Bertahan Generasi 70-an.
Kita ini pelaku sejarah yang dipaksa melakukan factory reset pada otak kita berkali-kali. Begitu kita paham aturan main di era Orde Baru, sistemnya bubar. Begitu kita mulai nyaman dengan cara kerja kantoran konvensional, revolusi digital datang dan bilang, "Lupakan itu semua, sekarang semuanya ada di awan (cloud)." Kita dipaksa belajar ulang, menyesuaikan diri, dan tetap produktif di tengah dunia yang bergerak lebih cepat daripada cicilan motor. Inilah yang membuat kita punya mentalitas "penyintas" yang jarang dimiliki generasi setelah kita yang semuanya serba instan.
Dari Orde Baru ke Revolusi Digital: Kita Sudah Lihat Semuanya.
Melihat fenomena hustle culture hari ini, kita hanya bisa tersenyum simpul sambil ngopi. Kita sudah melakukan "hustle" bahkan sebelum istilah itu keren, bedanya dulu kita tidak sempat mempostingnya di Instagram dengan caption motivasi yang sok bijak. Kita bertahan bukan karena ingin pamer, tapi karena memang tidak ada pilihan lain selain maju terus. Kita adalah bukti bahwa pengalaman melihat dunia tanpa filter digital membuat pandangan kita tetap membumi, meskipun tangan kita sekarang sibuk mengoperasikan teknologi terbaru.
Kenapa Generasi Kita Susah Dikalahkan Oleh Keadaan?
Pada akhirnya, menjadi saksi tiga era—akhir Orde Baru, Reformasi, dan Digital—adalah sebuah kehormatan yang melelahkan namun membanggakan. Kita tetap di sini, tetap bekerja, dan tetap relevan tanpa perlu bertingkah berlebihan di media sosial demi validasi. Apakah kalian juga merasa bahwa krisis-krisis masa lalu itu yang bikin kita sekuat sekarang? Coba absen dulu yang merasa satu frekuensi!
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...