PRIMETIME DRAMA-CEPTION


Kita hidup di era di mana batasan antara krisi nyata dan akting demi validasi seudah separah filter instagram yang mengaburkan pori-pori. Di kantor terjebak dalam intrik yang lebih sengit dari Game Of Thrones, sementara di rumah tidak ada metafora yang tepat untuk menggambarkan suasana. Salah bicara menjadi pihak yang bersalah. Kita lelah bukan karena pekerjaannya, tapi karena haru sterus menerus mengkurasi reaksi wajah agar sesuai dengan espektasi drama yang sedang diputar.

Drama kantor biasanya punya pola terbaca, ada yang melempar issue masalah dan kemudian serta merta mendadak menjadi tim problem solver. Atau atasan membuat urgensi palsu, seolah sebuah komet akan menabrak bumi jika revisi penawaran harga tidak segera dikirim dalam 20 menit ke depan.

Selanjutnya, saat kita pulang ke rumah seolah kita pulang mencari suaka, kita justru disambut oleh "session ke-2" . Rasa bersalah diproduksi massal seperti barang pabrikan, kita dibuat merasa berdosa hanya karena bernafas terlalu keras atau karena gagal membaca pikiran pasangan yang sedang menggunakan topeng silent treatment. Terjebak dalam lingkaran setan dimana kita tidak tahu apakah sedang menghadapi masalah psikologis yang serius atu sekedar skrip buruk yang ditulis oleh ego kolektif kita masing-masing.

Petanyaannya sederhana, namun mengerikan; apakah konflik ini menang ada karena perbedaan prinsip. atau kita sengaja memeliharanya agar hidup yang membosankan ini punya sedikit bumbu narasi ? Kita menjadi kecanduan pada rasa lelah karena menjadi "korban" atau "pahlawan" dalam cerita yang sebenarnya bisa selesai dalam satu paragraf komunikasi jujur. Kita merasa bersalah di rumah, merasa tertekan di kantor, tapi anehnya kita tetap berlangganan pada kedua drama tersebut seolah-olah takut kalau layar hitam tiba-tiba muncul dan kita harus menghadapi kenyataan bahwa hidup ini sebenarnya ya biasa saja.

Mungkin besok kita bisa mencoba sesuatu yang radikal: berhenti berakting. Tapi tentu saja, itu akan membuat kita terlihat sangat aneh di mata orang-orang yang sudah terlanjut berinvestasi pada naskahnya masing-masing. Bayangkan betapa bingungnya rekan kerja anda jika anda hanya membalas provokasinya dengan senyum datar, atau betapa canggungnya suasana rumah jika tidak ada lagi yang mereasa perlu menjadi martir. Apakah kita benar-benar siap untuk hidup tanpa konflik rekayasa, atau sebenarnya kita justru takut bahwa tanpa semua drama ini kita hanyalah figuran dalam kehidupan kita sendiri?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Satu Tombol yang Tidak Ditekan: Tentang Keputusan Kecil dan Tanggung Jawab Moral

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain

Kotoran Burung & Lampu Mati: Selamat Datang di Kekacauan India Open 2026

LELAH TAK KUNJUNG USAI

Marketing di Atas Luka: Seni Memanfaatkan Musibah Menjadi Cuan.

Kekuatan Tidak Datang dari Langit

Mau sampai kapan menjadi penonton sombong ?