SAAT BURU JUARA TERLALU MANJA UNTUK PULANG KAMPUNG


Kata favorite pada kolektor: "Penangkaran", terdengar mulai, seolah kita sedang membantu bahtera Nabi Nuh modern untuk menyelamatkan Murai Batu dari kiamat ekologi. Tapi mari kita jujur sejenak dibalik kepulan asap rokok: apakah kita benar-benar sedang menangkarkan mereka untuk alam atau kita kita sebenarnya sedang membangun "pabrik" pencetak uang yang kebetulan bisa berkicau? Kita sedang menciptakan populasi burung yang sangat mahir meniru suara ciliin dan kenari.

Paradoksnya begini; kita mengklaim telah berhasil "melestarikan" Murai Batu karena jumlahnya di kandang dalam rumah beton kita membludak. Namun coba tanya kepada para pemilik penangkaran itu, berapa banyak dari hasil ternakan mereka yang sudah "mudik" ke hutan?  

Jawabannya biasanya adalah keheningan yang lebih sunyi daripada hutan yang sudah gundul.  

Melepasliarkan burung hasil tangkaran yang harganya puluhan juta itu dianggap sebagai "pemborosan ekonomi" yang tidak masuk akal. Jadi kita terjebak dalam hobi menyelamatkan spesies hanya untuk memastikan mereka tetap menjadi pajangan di ruang tamu kita. Kita tidak menyelamatkan spesies; kita hanya sedang melakukan domestikasi paksa agar mereka sesuai dengan standar estetika ruang tamu minimalis kita. Atau menjadi aset yang semakin harganya  meninggi setelah berpetualang di setiap kontest kicauan. 

Reintroduksi pun akhirnya hanya menjadi dongeng pengantar tidur sebelum kontes dimulai. Burung-burung hasil tangkaran kita sudah terlalu "beradab"; mereka lebih kenal aroma pur buatan pabrik dan vitamin botolan daripada rasa serangga hutan yang sebenarnya. Jika dilepaskan sekarang, mereka mungkin akan mencari stop kontak atau menunggu tangan manusia memberi makan daripada berburu sendiri. Kita telah mencoptakan versi "burung kota" yang lupa cara menjadi burung hutan. Dan sementara itu, hutan asli kita tetap melompong menunggu penghuni aselinya yang sekarang sibuk mengejar poin di bawah teriakan juri dan kibasan bendera diskon.

Penangkaran tanpa reintroduksi hanyalah cara halus kita untuk memindahkan kekayaan alam ke dalam aset pribadi tanpa rasa bersalah. Kita merasa telah merasa menjadi pahlawan lingkungan hanya karena berhasil menetaskan telur di dalam kota kayu, sementara di luar sana, ekosistem sedang perlahan mati karena kehilangan fungsi biologis dari penghuninya. Jadi apakah kita sekarang sedang menjaga kehidupan atau kita hanya sedang mengoleksi sisa-sisa kejayaan alam yang sudah kita taklukan? Mungkin jawabannya tersimpan rapat di balik pintu kandang yang terkunci yang kuncinya sudah kita buang jauh-jauh demi keamanan investasi kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Satu Tombol yang Tidak Ditekan: Tentang Keputusan Kecil dan Tanggung Jawab Moral

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain

Kotoran Burung & Lampu Mati: Selamat Datang di Kekacauan India Open 2026

LELAH TAK KUNJUNG USAI

Marketing di Atas Luka: Seni Memanfaatkan Musibah Menjadi Cuan.

Mau sampai kapan menjadi penonton sombong ?

Kekuatan Tidak Datang dari Langit