MULTIVERSE OF DELUSION- KETIKA PURA-PURA LUPA BERTEMU THE TRUMAN SHOW



Bayangkan sebuah sirkus di mana kalian adalah direkturnya, badutnya, sekaligus penonton yang paling keras protesnya. Semua terhubung ternyata. Kita mulai dengan pura-pura tidak tahu (strategi lari dari beban), lalu saat semuanya berantakan kita melakukan sabotase diri (agar punya alasan untuk gagal), dan ketika hancur total, kita menurup dengan narasi The Truman Show -bahwa semua ini adalah konspirasi semesta dan kita adalah korban yang paling rapuh di dunia. relate ? mungkin, bisa jadi sangat relatable. Karena jauh lebih mudah merasa "dikerjai takdir" daripada mengakui bahwa kita sendiri yang memegang remote kontrolnya sejak awal.

Hubungan antara "pura-pura lupa" dan "merasa dunia melawan kita" itu sedekat nadi. Ketika seseorang terus menerus berbohong dan kembali ke "settingan awal", mereka sebenarnya sedang membangun panggung sandiwara mereka sendiri. Saat kebohongan itu mulai runtuh, mereka tidak akan bilang "saya salah", tapi mereka akan beralih ke mode "marah-sedih-rapuh". Kenapa ? karena dengan menjadi rapuh, mereka punya alasan untuk tidak disalahkan "saya lagi breakdown, kok kamu malah bahas kesalahan saya ?" adalah jurus pamungkas untuk membungkam logika lawan bicara.

Inilah lingkaran setannya: Kita menciptakan masalah dengan sengaja (sabotase), lalu kita merasa menjadi pusat semesta yang sedang diuji (Truman Show), dan saat orang menagih janji, kita pura-pura lupa (amnesia strategis). Kita terjebak dalam peran "Martir Palsu", kita sangat lelah, tapi lelahnya bukan karena kerja keras, melainkan kaena lelah menjaga agar skrip kebohongan dan narasi "korban" ini tidak terbongkar. Kita merasa semua orang "against us", padahal mungkin orang lain hanya sedang capek melihat kita memutar kasih lama yang itu-itu saja. Mereka bukan aktor yang bersekongkol. Mereka mungkin hanya penonton yang sudah bosan dan ingin segera pulang tapi pintu teaternya kita kunci dari dalam.

Jadi, masih merasa semua ini adalah konspirasi besar para kru film di langit ? atau jangan-jangan hanya sedang kelelahan karena harus memerankan terlalu banyak karakter dalam satu hari; jadi pembohong di pagi hari, jadi sabotase di siang hari, dan jadi korban yang rapuh di malam hari?

Mungkin dunia tidak sedang melawan; mungkin dunia hanya sedang untuk berehenti berakting dan mulai menjadi manusia yang biasa-biasa saja. Bukankah menjadi figuran yang jujur jauh lebih tenang daripada menjadi tokoh utama dalam film yang genre-nya pun kita tidak tahu; komedi putar atau tragedi yang dipaksakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Tombol yang Tidak Ditekan: Tentang Keputusan Kecil dan Tanggung Jawab Moral

Hingga Detik Terakhir Berdenyut- Sebuah Surat Cinta untuk Burnout

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain

Kotoran Burung & Lampu Mati: Selamat Datang di Kekacauan India Open 2026

LELAH TAK KUNJUNG USAI

Marketing di Atas Luka: Seni Memanfaatkan Musibah Menjadi Cuan.

Kekuatan Tidak Datang dari Langit

Mau sampai kapan menjadi penonton sombong ?