Panggung Sandiwara Sang Dermawan Selektif
Pernahkah kalian melihat seseorang yang mendadak punya sayap malaikat dan bercahaya saat berada di lingkungan baru, padahal di rumah sendiri ia bahkan tidak tahu cara menawarkan segelas air? Rasanya seperti menonton pertunjukan teater buruk di mana aktor utamanya begitu sibuk memoles citra sebagai "pahlawan masyarakat" demi tepuk tangan orang asing, sementara orang-orang yang selama ini menopang hidupnya dibiarkan kelaparan—baik secara fisik maupun emosional. Ada kepuasan instan yang memuakkan saat seseorang merasa "bernilai" hanya karena berhasil mengecoh mata orang baru, sebuah ego yang membengkak hanya karena pujian murah dari mereka yang sebenarnya cuma sedang memanfaatkan momen.
Seni Menjadi Pahlawan Palsu: Cara Cepat Dipuji Orang yang Tidak Mengenal Anda
Fenomena ini adalah bentuk narsisme yang dibalut jubah kebajikan. Kita hidup di era di mana "terlihat baik" seringkali dianggap lebih penting daripada "menjadi baik". Si pahlawan kesiangan ini akan dengan sigap membantu tetangga jauh yang butuh modal usaha atau mentraktir teman baru di kafe hits, demi mendapatkan label "orang baik" yang divalidasi lewat unggahan media sosial atau sekadar bisik-bisik kagum.
Padahal, jika kita menengok ke belakang bahunya, ada pasangan yang kelelahan, orang tua yang diabaikan, atau teman lama yang selama ini dipinjam uangnya namun tak pernah dibayar.
Mereka ini ibarat orang yang sibuk mengecat pagar rumah orang lain agar terlihat rapi, sementara atap rumahnya sendiri sudah ambruk dihantam rayap pengabaian. Ketidakpekaan ini bukan karena mereka tidak mampu melihat, tapi karena mereka memilih untuk buta; sebab membantu orang terdekat itu melelahkan dan seringkali tanpa tepuk tangan, sedangkan menjadi pahlawan bagi orang asing adalah jalan pintas menuju takhta kehormatan semu.
Rabun Dekat Emosional: Menjadi Malaikat bagi Dunia, Menjadi Beban bagi Keluarga
Menjadi pusat perhatian bagi orang yang tidak mengenal kita memang memberikan dopamine yang luar biasa, tapi itu hanyalah fatamorgana yang akan menguap saat lampu panggung padam. Memang jauh lebih mudah tersenyum ramah pada orang asing daripada meminta maaf pada orang rumah, dan jauh lebih murah memberi sedekah demi pujian daripada memberi waktu demi kepedulian yang nyata. Tapi coba dipikir lagi, saat topeng pahlawan itu retak dan semua orang asing itu pergi setelah urusan mereka selesai, siapa yang kira-kira bakal tetap ada di sana untuk memunguti serpihan ego kalian yang pecah itu?
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...