Mau sampai kapan menjadi penonton sombong ?
Ingin Terlihat Uptodate tapi Mager Belajar: Gengsi Tinggi di Era Teknologi Ngebut
Ironisnya, kemauan untuk terlihat “up-to-date” justru sering berbanding terbalik dengan usaha nyata. Label paham teknologi ditempel sendiri, padahal praktiknya nihil. Gadget makin canggih, spek makin dewa, tapi pemakaiannya cuma mentok di scrolling media sosial, ketawa di kolom komentar, atau debat kusir yang nggak nambah skill apa pun. Kalau mentok saat mulai belajar yang disalahin hape atau koneksi yang kurang kenceng...! bukannya bertanya bagaimana caranya, malah mina dibuatin dan di selesaikan dengan bantuan orang lain. Halah !!! kapan bisa nya nyet! Kuota dan pulsa habis, tapi yang bertambah hanya jam layar, bukan nilai diri. Teknologi yang seharusnya jadi alat produktif malah berubah jadi mesin konsumsi pasif. ah riweuh !!! Malah sekedar artikel gosip saja minta penjelasan ke orang lain, tanya kesimpulannya, engga mau baca dari awal sampai akhir artikel. Baca doang mogok di headline dan sub-headline, fokus buyar oleh iklan obat kuat dari bahan gigi geraham ikan sapu. Tipikal ingin serba tahu tapi malas baca.
Gadget Canggih, Skill Kosong: Ketika Teknologi Cuma Jadi Alat Scroll
Padahal, laju teknologi hari ini bukan main-main. Banyak ahli sepakat bahwa setelah tahun 2000, perkembangan teknologi melesat sekitar 10 kali lebih cepat dibanding era sebelumnya. Artinya, menunda belajar bukan cuma soal ketinggalan tren, tapi ketinggalan kesempatan. Di dunia yang bergerak secepat ini, berharap tetap relevan tanpa usaha itu ibarat ingin ikut lomba lari tapi ogah pakai sepatu—ya jelas tertinggal. kecuali lu porter Rinjani, hanya beralas sendal saja naik turun gunung udah kayak bolak balik dari ruang tamu ke dapur...
Penonton di Era Digital: Saat Teknologi Melaju 10x Lebih Cepat, Kamu Masih Diam
Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi tidak akan berarti apa-apa di tangan orang yang malas berusaha. Pilihannya sederhana: terus jadi penonton yang sibuk berkomentar, atau turun ke lapangan dan ikut terlibat. Belajar teknologi bukan cuma soal gaya hidup “kekinian,” tapi tentang membuka peluang—baik itu karier, proyek sampingan, atau sekadar memahami dunia yang berubah terlalu cepat untuk diabaikan. Dunia sudah ngebut. Tinggal kita mau ikut gas!!, atau tetap berdiri di pinggir jalan sambil bilang, “Nanti aja.”

Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...