Panduan Menanam Masalah, Cara Efektif Mengubur Konflik Agar Tumbuh Menjadi Bencana Masa Depan
Dalam sebuah pertemuan yang begitu tenang (baca: tegang) sampai-sampai suara AC pun terdengar seperti intimidasi, lalu tiba-tiba seseorang berkata, "Ya sudah, yang penting kita semua satu visi ya," dan semua orang bubar dengan senyum dipaksakan? Baru saja kita menyaksikan prosesi penguburan masalah hidup-hidup. Kita sering keliru menganggap bahwa hilangnya suara teriakan berarti masalah sudah selesai. Padahal, mengakhiri konflik tanpa menyelesaikan akar masalah itu ibarat mematikan alarm kebakaran saat ruangan masih penuh asap; suaranya memang hilang, tapi kalian tetap akan terpanggang.
Seni Berjabat Tangan di Atas Bom Waktu: Mengapa Kita Hobi Mengakhiri Konflik Tanpa Solusi
Kita hidup di budaya yang memuja "keharmonisan" di atas segalanya. Begitu ada perbedaan pendapat sedikit saja, departemen HR atau manajer yang panik akan segera datang membawa bendera putih, meminta kita saling memaafkan seolah-olah kita baru saja berebut mainan di taman kanak-kanak. Akibatnya, kita menjadi ahli dalam seni passive-aggressive. Masalah teknis yang seharusnya dibedah sampai tuntas akhirnya hanya dipoles dengan kalimat "yang penting jalan dulu." Kita tidak mengambil keputusan; kita hanya sepakat untuk berhenti bicara karena sudah lapar dan ingin segera pulang.
Damai Itu Indah, Tapi Gagal Bayar Vendor Itu Masalah: Jebakan 'Yang Penting Akur' di Kantor
Tragedinya adalah, masalah yang tidak diselesaikan itu punya sifat seperti mantan yang belum move on: dia akan muncul kembali di waktu yang paling tidak tepat. Saat tenggat waktu sudah mencekik leher, pertanyaan-pertanyaan fundamental yang dulu kita kubur demi "kenyamanan bersama" akan bangkit kembali dari kubur. Di titik itu, semua orang mulai saling tunjuk dan bertanya, "Lho, bukannya dulu sepakatnya begini?" Padahal, kesepakatan itu tidak pernah ada—yang ada hanyalah kelelahan kolektif yang kita labeli sebagai "mufakat". Tanpa catatan hitam di atas putih, tanpa keputusan yang tegas, kita sebenarnya tidak sedang menjalankan proyek; kita sedang menjalankan eksperimen sosial tentang seberapa lama sebuah tim bisa bertahan di atas tumpukan asumsi.
Rekonsiliasi Palsu: Saat Masalah Diselesaikan dengan Cara 'Nanti Kita Bahas Lagi
Mencatat bahwa "kita belum sepakat" sebenarnya jauh lebih terhormat daripada pura-pura paham demi menjaga perasaan rekan kerja. Kejujuran yang pahit tentang ketidakpastian sering kali menjadi fondasi yang lebih kokoh daripada niat baik yang mengambang tanpa arah.
Lagipula, bukankah lebih baik kita berdebat sedikit lama di awal daripada harus saling menyalahkan dalam sunyi saat semuanya berantakan nanti?
Atau mungkin, kita memang lebih suka memelihara drama agar punya alasan untuk rapat lagi minggu depan?
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...