Bagi dunia luar, mungkin terlihat seperti bapak-bapak yang sedang melamunkan cculan atu hasilskor bola semalam. Namun bagi kalian, duduk di teras dengan kopi hitam yang lebih pahit dari kenyataan hidup dan kepulan asap rokok adalah sebuah upacara sakral yang setara dengan retret spriritual di Tibet. Tidak pedulu hujan baru saja berhenti atau langit masih sehitam masa depan tanpa gaji tambahan, laki-laki punya kemampuan magis untuk menatap kekosongan langit malam seolah-olah di sana ada teks berjalan yang memberikan instruksi hidup. Ini bukan sekadar istirahat; ini adalah momen di mana kitamencoba menegosiasikan sisa kewarasan kita dnegan alam semesta satu seruput demi seruput.
Ada alasan menapa kopunya harus hitam danpahit, karena rasa manis hanya akan merusak seuasana melankolis yang sudah kita bangun dengan susah payah. Di momen ini kita sedang melakukan system restore. Merokok di depan teras saat malam hari adalah cara laki-laki melakukan 'defrag' pada otak yang seharian penuh dengan 'cache' berupa omelan, tangisan, rengekan, atau pertanyaan "kapan kita beli ganti hape baru ?" Hujan yang turun seharian justru memberikan 'soundtrack' yang alami yang pas untuk mendukung narasi bahwa kita adalah karakter utama dalam sebuah drama eksistensial yang sunyi. Kita tidak butuh musik latar; suata sisa tetesan air dari talang sudah cukup mewakili ritme jantung kita yang sedang mencoba sinkron kembali dengan bumi.
Lucunya, jika ada yang berani bertanya "Lagi mikirin apa ?" jawabannya tetap akan menjadi jawaban paling standar di dunia: "Engga ada, cman lagi santai" Padahal, di balik tatapan kosong itu, kita mungkin sedang menghitung berapa lama lagi ban mobil akan bertahan atau mengapa karakter di serial Netflix yang kita tonton tadi sangat bodoh. Kita tidak bicara bukan karena tidak ada yang dipikirkan. tapi karena menjelaskan isi kepala laki-laki saat me time itu butuh energi setara denganmenjelaskan teori relativitas Einstein menggunakan bahasa isyarat. Kita lebih memilih membiarkan masalah-masalash itu menguap bersama asap rokok daripada harus mengubahnya menjadi kalimat yang masuk akal bagi orang lain.
Teras rumah adalah zona demiliterisasi di mana tidak ada tuntutan untuk menjadi hebat, mejadi pilar, atau menjadi mesin uang. Selama kopi masih menyisakan hangat dan rokok belum menyentuh filternya, kita bebas menajdi pengamat langit yang gagal menemukan bintang namun tetap merasa menang. Entah apa yang kita cari di langit malam yang gelap itu, mungkin ketenangan ? mungkin juga solusi, atau mungkin hanya sekedar waktu lima menit sebelum kembali masih ke rumah dan menghadapi realitas yang tidak pernah bisa diselesaikan hanya dengan kopi hitam. Siapa tahu besok pagi dunia masih berputar atau setidaknya, kita masih punya sisa kopi untuk diingat....