Jika bertanya kepada seorang laki-laki ketika di titik terendahnya tentang kepada siapa dia mengadu. dan dia menjawan "tidak ada" jangan bayangkan dia sedang depresi berat -bayangkan dia sedang merasa seperti kapten kapal titanic yang memilih tenggelam bersama harga dirinya daripada harus naik sekoci bernama "curhat". Bagi kita, berbagi kesedihan itu rasanya seperti menelanjangi diri di tengah alun-alun; ada rasa malu yang ganjil, seolah-olah mengaku lelah adalah pengakuan dosa bahwa kita telah gagal menjadi 'pilar' yang selama ini dipuja-puji. Jadi kita pilih opsi paling aman; menyimpan semuanya di ruang bawah tanah mental kita, mengunci pintunya, dan menelan kuncinya bulat-bulat.
Ada semacam kepuasan maskulin yang aneh dalam penderitaan yang sunyi. Kita merasa sedang melakukan aksi heoik ala film aksi tahun 80-an ketika menanggung beban dunia di puncak tanpa mengeluarkan satu desah pun. "saya laki-laki, saya simpan sendiri" bukan sekadar kalimat, itu adlah sertifikat kelulusan dari ujian ketabahan yang kita buat-buat sendiri. Masalahnya kita tidak sadar bahwa menyimpan masalah sendirian itu mirip seperti menimbun sampah organik di dalam kamar ber-AC; awalnya tidak kelihatan, tapi lama-lama aromanya akan keluar dalam bentuk sumbu pendek, wajah yang mendadak kaku, atau hobi baru yang tidak masuk akal seperti tiba-tiba ingin mendaki gunung sendirian tanpa persiapan.
Mungkin laki-laki memang butuh suang sunyi untuk memproses segalanya, atau mungkin kita hanya terlalu malas untuk menjelaskan alur cerita drama hidup kita yang terlalu rumit untuk didengar orang lain. Selama kita masih bisa bangun pagi, dan berpura-pura semuanya normal, maka "tidak ada siapa-siapa" akan tetap menjadi jawaban favorit yang paling elegan sekaligus paling menyakitkan. Bukankah pahlawan dalam komik-komik lama selalu digambarkan menyendiri di puncak gedung sambil menatab kota yang gelap. Bedanya kita tidak sedang menatap kota, kita hanya sedang menatap layat HP yang gelap sambil berharap masalah ini hilang sedniri saat kita tertidur nanti.