Ada orang yang begitu bersemangat melompat ke dalam gerbong kereta yang sedang melaju hanya karena mereka takut ketinggalan pemandangan, tapi langsung pura-pura tidur saat tiket ditagih? Selamat datang di era di mana "ikut meramaikan" dianggap sebagai kontribusi penuh, dan "menyelesaikan masalah" dianggap sebagai beban administrasi yang bisa didelegasikan ke semesta. Kita semua punya satu teman atau kolega yang hobi melempar granat antusiasme ke tengah ruangan, lalu mendadak punya jadwal meeting mendesak saat granat itu meledak jadi tumpukan pekerjaan.
Masalahnya, tren gaya hidup kita sekarang lebih menghargai engagement awal daripada hasil akhir. Di kantor, ada tipe manusia yang di rapat koordinasi paling kencang bilang "wah, ini harus kita eksekusi secepatanya" tapi seminggu kemudian saat ditanya progres, dia mendadak amnesia atau sibuk mengurusi proyek "strategis" lainnya yang lebih estetik untuk dipajang di story whatsapp. Mereka ini adalah kurator keributan, mereka mencintai keriuhan saat sebuah ide diluncurkan, tapi alergi pada deu yang dihasilkan saat ide itu harus benar-benar dibangun. Cuci tangan bukan lagi sekadar protokol kesehatan pasca-pandemi, melainkan strategi karier paling mutakhir bagi mereka yang ingin nama tertulis di kredit pembuka, tapi ogah ada di daftar orang yang harus lembur akhir pekan.
Fenomena ini adalah bentuk FOMO (Fear of Missing Out) yang naik kelas menjadi FOBO (Fear of Being Obligated) ketakutan untuk memiliki kewajiban. Kita ingin dianggap paling update, paling peduli, dan paling vokal dalam isu terbaru, namun begitu narasi terseut menuntut tanggung jawab nyata atau konsitensi yang membosankan, kita memilih untuk "ghosting" secara massal. Bukankah lucu melihat bagaimana seseorang bisa begitu militan membela sebuah gebrakan di media sosial selama 24 jam penuh, lalu minggu depan sudah llupa apa nama gerakannya karena ada trend baru yang lebih menggoda untuk diikuti. Menjadi pahlawan di babak pertama itu mudah, tapi menjadi ornag yang memastikan lampu dimatika setelah semua orang pulang adalah pekerjaan yang terlalu "kurang gaya" untuk mereka yang hidup demi validasi sesaat.
Lucunya, kita sering memaafkan perilaku seperti ini karena kita sendiri kadang-kadang adalah pelakunya lebih suka menjadi percikan api daripada menjadi kayu bakar yang rela habis demi menjaga suhu tetap hangat. Jadi sebelum memutuskan untuk kembali ikut campur dalam keramaian berikutnya, mungkin ada baiknya bertanya pada cermin. Apakah memang ingin membantu atau hanya bosan dan butuh panggung gratis untuk sekadar pamer kehadiran. Lagi pula, dunia sudah cukup penuh dengan orang-orang yang jadi membuka pintu tapi lupa cata menutupnya kembali.