Belajar dari Perang SEAblings VS You Know Who - Etika Digital yang Harus Kita Jaga


Bayangkan internet adalah sebuah meja makan raksasa di mana semua bangsa duduk bersama. Sayangnya, alih-alih berbagi hidangan budaya yang lezat, belakangan ini meja tersebut justru dipenuhi aksi lempar piring dan adu mulut antara kita dan tetangga sebelah, yang dipicu oleh "bumbu" rasisme dan kesalahpahaman (?). Perang SEAblings (Southeast Asian Siblings) vs You Know Who bukan sekadar drama dadakan; ini adalah cermin besar yang menunjukkan betapa rapuhnya kedamaian kita saat hanya dipisahkan oleh satu tombol refresh. Jika kita terus-menerus bertempur seperti orang yang kehilangan akal sehat setiap kali ada yang menyenggol harga diri kita, apakah kita sedang membela kehormatan bangsa, atau sebenarnya kita hanya sedang memamerkan betapa rendahnya literasi digital kita di depan panggung dunia?

Pelajaran pertama yang paling menohok dari konflik ini adalah pentingnya memisahkan kritik terhadap individu dengan penghinaan terhadap bangsa atau ras. Sering kali, saat kita marah pada satu orang (misalnya seorang individu rasis), jempol kita secara otomatis menyerang seluruh etnis atau negaranya. Ini bukan hanya salah sasaran, tapi juga membuat kita terlihat sama buruknya dengan pelaku aslinya.

Pelajaran kedua adalah sadar akan enkripsi budaya kita sendiri. Penggunaan bahasa daerah, aksara khusus, atau bahkan kode Morse (??) adalah bukti bahwa kita punya "benteng" unik, namun etika tetap harus dijaga agar kreativitas tersebut tidak berubah menjadi senjata rasisme balik yang justru merusak citra Nusantara yang kita cintai.

Terakhir, pelajaran yang paling krusial adalah memahami kapan harus berhenti memberikan panggung bagi kebencian. Algoritma media sosial tidak peduli siapa yang benar; ia hanya peduli pada siapa yang paling berisik. Semakin kita membalas setiap komentar negatif dengan amarah, semakin viral pula konten rasis tersebut. Ada kekuatan besar dalam mengabaikan (atau melakukan report massal secara diam-diam) daripada memberi makan ego para pencari perhatian. 

Perang SEAblings mengajarkan kita bahwa solidaritas regional itu nyata dan kuat, namun solidaritas tersebut akan jauh lebih bermartabat jika digunakan untuk mempromosikan keindahan budaya masing-masing daripada sekadar adu canggih dalam urusan memaki di kolom komentar.

Saya sangat faham, netijen kita mempunyai track record yang tidak bisa dianggap main-main untuk urusan ber-sosmed. Entah harus bangga atau malu, issue akhir-akhir ini banyak yang menyikapi dengan beragam respond. Tentunya tidak jauh dengan apa yang dialami penulis, tapi sejujurnya kadang bisa membuat tertawa lepas, dengan apa yang netijen kita balas berkomentar. Salah satu yang menarik adalah, bahwa ternyata netijen kita tidak ingin menang debat mereka hanya ingin bikin kesal lawan debatnya. Terbukti dengan banyak komentar yang tidak nyambung atau tidak ada hubungan dengan komentar sebelumnya. Dan ini malah membuat kita geli. Kemenangan = bikin kesal lawan debatnya. Sebagian netijen kita sudah gerah dan menyarankan untuk menghentikan perang sosmed ini. Bagaimana tidak ? kadang pemerintah sendiri juga mereka (netijen kita) di-roasting habis-habisan.

Menjadi netizen yang cerdas adalah tentang tahu kapan harus menekan tombol "kirim" dan kapan harus mematikan layar ponsel untuk sekadar memanusiakan diri kembali. Kita tidak butuh medali sebagai pemenang debat internet jika harga yang harus dibayar adalah hilangnya kewarasan dan empati kita sebagai manusia.

Jadi, setelah semua keributan ini mereda, apakah kita akan tetap menjadi netizen yang haus akan konflik berikutnya, atau kita akan mulai belajar bahwa senjata terbaik untuk melawan kebencian bukanlah kebencian yang lebih besar, melainkan kecerdasan yang membuat lawan kehilangan kata-kata? Entahlah, mungkin jawabannya ada di ujung jempol kalian masing-masing sebelum mengetik cuitan esok pagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Tombol yang Tidak Ditekan: Tentang Keputusan Kecil dan Tanggung Jawab Moral

Kotoran Burung & Lampu Mati: Selamat Datang di Kekacauan India Open 2026

Ditempa Krisis, Dibentuk Perubahan

Memaksakan diri menggunakan rute orang lain itu ibarat memakai sepatu ukuran orang lain

LELAH TAK KUNJUNG USAI

JEJAK DIGITAL KITA YANG TERBUKA LEBAR

Kekuatan Tidak Datang dari Langit

Mau sampai kapan menjadi penonton sombong ?

Marketing di Atas Luka: Seni Memanfaatkan Musibah Menjadi Cuan.