Arkeologi Digital- Menelusuri Jejak Norak di Blog Tahun 2008
Menjalankan blog sejak 2008 itu sebenarnya bukan cuma soal hobi, tapi lebih mirip seperti melakukan ekskavasi arkeologi terhadap kebodohan diri sendiri. Kalau kita buka arsip belasan tahun lalu, isinya sering kali bukan pemikiran mendalam ala filsuf, melainkan curhatan tanpa filter dengan penggunaan tanda seru yang berlebihan dan diksi yang bikin dahi mengernyit. Membaca ulang postingan lama itu rasanya seperti melihat foto masa kecil dengan potongan rambut gagal; ada rasa geli, malu, tapi kita sadar bahwa kekacauan itulah yang membawa kita sampai di titik ini.
Evolusi Gaya Menulis: Dari Alay ke Lumayan (Tapi Tetap Lumayan Malu-maluin)
Dulu, gaya penulisan kita mungkin berubah-ubah mengikuti tren yang sedang 'in' atau sekadar meniru blogger idola yang saat itu dianggap paling keren. Kadang kita mencoba terdengar puitis tapi malah berakhir norak, atau ingin terlihat kritis tapi hasilnya malah tidak beraturan dan membingungkan. Fenomena ini sebenarnya sangat manusiawi di tengah rimba media sosial yang menuntut kesempurnaan. Kita semua pernah menjadi 'korban' dari proses belajar yang berantakan, di mana struktur kalimat berantakan adalah bukti bahwa kita pernah cukup berani untuk sekadar bicara tanpa takut dihakimi algoritma.
Kenapa Membaca Tulisan Lama Sendiri Terasa Seperti Menonton Film Horor?
Sekarang, saat membaca ulang dan merasa ingin mengubur laptop dalam-dalam karena malu, itu sebenarnya adalah tanda kemenangan kecil. Rasa malu itu muncul karena standar kita sudah naik dan sudut pandang kita sudah lebih dewasa. Kita tidak lagi menulis hanya untuk memenuhi kolom komentar atau sekadar ikut-ikutan tren yang cepat basi.
2008 ke 2026: Perjalanan Menemukan Jati Diri Lewat Ketikan Tanpa Arah
Pada akhirnya, blog tersebut bukan sekadar tumpukan teks, melainkan bukti otentik bahwa kita pernah tumbuh, pernah salah, dan yang terpenting: pernah punya keberanian untuk menjadi norak sebelum akhirnya menemukan suara yang lebih jernih.
Manifesto Penulis Amatir: Saat Konsistensi Beradu dengan Kebodohan Masa Lalu
Jadi, buat yang juga punya 'sampah digital' dari masa lalu, jangan buru-buru dihapus. Anggap saja itu museum pribadi tentang bagaimana rasanya menjadi manusia yang berproses. Ya, kalau malunya kebangetan, set jadi draft saja dulu..
Komentar
Posting Komentar
Hatur nuhun...