THE TRUMAN SHOW DELUSION


Bayangkan masuk ke sebuah ruangan dan merasa percakapan tiba-tiba berubah, seolah-olah sema orang baru saja menerima instruksi dari sutradara melalui earpiece tersembunyi. Ada sebuah sensasi ganjil di mana kita merasa menjadi satu-satunya manusia "aseli" di tengah kerumunan aktor bayaran yang sedang menjalankan naskah besar. Ini bukan sekadar rasa percaya diri yang kelewat batas; ini adalah perasaan bahwa dunia adalah sebuah panggung theater raksasa, dan kalian -entah kenapa- adalah protagonis tunggal yang sedang dikerjai oleh konspirasi global bernama "realitas"

Ketika seluruh dunia hanyala ekstra dalam kisah hidup.

The Truman Show versi sendiri, fenomena yang dirasakan ini sangat spesifik dan memiliki nama The Truman Show Delusion. Dalam spektrum yang lebih luas bisa mengarah pada Solipsisme, sebuah keyakinan filosofis bahwa hanya pikiran sendiri yang benar-benar ada, sementa orang lain hanyalah proyeksi atau "NPC" (Non-Player Character) dalam simulasi hidup.

Dalam tulisan artikel psikologi yang pernah tidak sengaja saya baca yang entah dimana saya membacanya, bahwa setiap orang memiliki pertan khusus yang dirancang hanya untuk berinsteraksi dengan kita sering disebut sebagai The Truman Show Delusion. Bayangkan betapa melelahkannya menjadi orang lain di hidup kalian; tukang kopi harus ingat naskah "ramah tapi sibuk", rekan kerja harus akting "peduli tapi kompetitif", bahkan kucing di jalan mungkin sebenarnya adalah robot mata-mata yan dikendalikan dari ruang kontrol. Kita mulai curiga bahwa semua kegagalan, pertemuan kebetulan, dan drama sehari=hari hanyalah plot devices yang sengaja dibuat untuk melihat bagaimana reaksi kita. Ada semacam narsisme yang kelam di sini, kita merasa sangat penting sampai-sampai selluruh penduduk bumi rela meluangkan waktu 24 jam sehari hanya untuk mengerjai satu orang.

Skrip besar semesta; apakah kalian semua punya grup whatsapp tanpa saya ?

Masalahnya, narasi "semua orang bersekongkol melawan saya" ini adalah pelarian yang sangat sempurna. Jika proyek gagal, itu bukan salah kita, tapi karena "penulis naskah" sedang ingin membuat episode tragis. Jika kita kesepian, itu karena aktor-aktor di sekitar kita sdang menjalani jam istirahat atau naskahnya memang sedang low budget. Kita terjebak dalam labirin pikiran kita sendiri, di mana setiap senyuman orang asing terasa seperti kode rahasia dan setiap kesialan adalah sabotase terencana. Kita lupa baha mungkin saja orang lain tidak sedang berakting. mereka mungkin hanya terlalu sibuk dengan "film" mereka sendiri sehingga tidak punya waktu untuk membaca naskah hidup kita yang, jujur saja, terkadang agak membosankan.

Selamat datang di panggung sandiwara, mengapa saya merasa semua orang sedang akting ? solipsisme modern, antara menjadi tokoh utama dan menjadi paranoid.

Menarik memang membayangkan dunia ini berputar hanya untuk kita, dengan miliaran orang sebagai figuran dibayar UMR untuk tetap konsisten pada peran mereka. Tapi coba pikirkan sisi lainnya; jika iin benar-benar panggung sandiwara, bukankah akting mereka sangat luar biasa karena tidak pernah ada break character selama puluhan tahun? Atau jangan-jangan, justru kitalah yang sedang memerankan tokoh "Orang Paranoid" dalam naskah milik orang lain ? 

apakah kalian merasa menjadi pusat cerita karena kalian memang spesial atu karena kalian hanya terlalu takut mengakui bahwa di mata dunia, kita hanyalah figuran lewat yang bahkan tidak masuk dalam kredit akhir ?

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama