LOGIKA VS GENSI


Suatu saat ketika sedang berbicara dengan sebuah algoritma rusak yang diprogram untuk tidak pernah memberikan jawaban "ya" atau "tidak" ? semuanya pasti punya satu orang dalam hidup yang kalau ditanya arah jalan, mereka akan menjelaskan rotasi bumi, cuaca kutub utara, dan betapa indahnya aspal -tapi tetap tidak memberi tahu kita harus belok kiri atau belok kanan. ini bukan sekadar masalah komunikasi; ini adalah bentuk olahraga mental di mana lawan bicara kita mencoba memenangkan pertandingan yang aturannya mereka buat sendiri di dalam kepala, lalu kesal karena kita tidak bisa membaca pikiran mereka yang semrawut itu.

Di dunia profesional, fenomena ini sering dibalut dengan kata-kata mutiara seperti "pikiran di luar kotak/out of the box" atau "mari mencari angle lain" Padahal, realitanya sederhana; mereka gensi mengakui baha rencana mereka sudah menabrak tembok. Ketika angka sudah menunjukan angka nol mutlak dan kita bilang "ini sudah mentok" mereka akan membalas dengan "ya, tapi coba dimaksimalkan lagi" Dimaksimalkan ke mana ? ke dimensi keempat ? ke dunia sihir Harry Potter ? seolah-olah kita ini memegang tongkat ajaib yang bisa merubah 1+1 menjadi 10 hanya karena mereka meminta dengan kalimat yang diputar-putar sedemikian rupa agar terlihat seperti strategi jenius.

Orang-orang tipe ini biasanya menggunakan teknik "Gaslighting Visual" Mereka memutarbalikan kata-kata kita sampai kita sendiri ragu apakah angka yang kita pegang itu nyata atu hanya imajinasi. Mereka tidak bertanya untuk mendapatkan jawaban, mereka bertanya untuk menjebak kita agar mengakui kesalahan yang tidak kita perbuat. Memaksakan kehendak dengan cara memutarbalikan fakta itu bukan kepemimpinan, itu adalah manipulasi tingkat rendah yang dibungkus dengan kemeja rapi. Mereka tahu angkanya sudah habis, mereka tahu jalannya sudah buntu, tapi mengakui kekalahan itu merusak estetika gengsi mereka. Jadi solunya ? ya menyuruh kita melakukan "keajaiban" agar kalauun gagal, mereka punya kambing hitam untuk disalahkan.

Berdebat dengan orang yang gensinya setinggi langit tapi logikanya selicin belut hanya akan membuat kita lelah mental secara sia-sia. Mereka tidak butuh data, mereka butuh validasi atau delusi mereka bahwa segala sesuatu bisa "diatur" jika kata-katanya cukup puitis. Mungkin lain kali, saat mereka menyuruh kita untuk "memaksimalkan" sesuatu yang sudah mentok, kita cukup balik bertanya "apakah say aperlu memesan oven atau kuali sihir untuk memasak angka ini agar sesuai dengan ekspektasi anda ?" karena jujur saja, di dunia yan penuh dengan kepastian angka, masih banyak orang yang lebih percaya kepada kekuatan retorika kosong daripada kenyataan pahit yang ada di depan mata. Jadi lebih pilih jujur tapi pahit tau muter-muter sampai pusing tapi terlihat "pintar" ? nah jika ketahuan tidak pintar ??

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama