SELAMA SALDO TERISI, JANGAN TANYA HARI INI AYAH NANGIS DI MANA


Ada sebuah kesepatanan tidak tertulis dalam kontrak menjadi seorang ayah; selama beras tersedia di dapur dan cicilan motor tidak nunggak, maka status emosional anda secara otomatis dianggap aman dan terkendali. Menanyakan perasaan seorang ayah yang sedang bekerja itu ibarat menanyakan suhu mesin pada mobil balap yang sedang melaju kencang. -tidak relevan, mengganggu fokus dan beresiko bikin mobil meledak. Bagi mereka "kesejahteraan" bukan tentang ketenangan batin, melainkan tentang seberapa lancar aliran dana dari rekening ke meja makan. Jika perut keluarga kenyang, maka hati ayah dianggap sudah cukup mewakili oleh struk belanja bulanan.

Kita hidup dalam narasi di mana harga diri seolah laki-laki diukur dari seberapa tangguh dia memikul beban tanpa mengeluh, seolah-olah mengeluh adalah dosa besar yang bisa membatalkan haknya sebagai pemimpin. "Ayah baik-baik saja" seringkali menjadi mantra sakti untuk menutupi encok di pinggang, tekanan tenggat waktu dari bos yang kurang piknik, hingga rasa sepi yang mendalam di tengah kemacetan kota. Bagi banyak ayah, menunjukkan kelelahan adalah bentuk pengkhianatan terhadap peran mereka sebagai pelindung; seolah-olah jika mereka goyah sedikit saja, seluruh struktur rumah tangga akan runtuh seperti kartu remi. Jadi, mereka memiliih untuk menjadi "berfungsi" sebuah kata yang lebih cocok untuk alat elektronik daripada manusia karena menjadi manusia yang punya perasaan terasa terlalu mahal harganya di tengah inflasi yang terus naik.

Obsesi pada fungsi ini menciptakan paradoks yang lucu sekaligus getir. Kita memiliki sosok pahlawan di rumah yang tahu persis cara memperbaiki keran bocor atau membaya pajak, tapi mendadak gagap saat ditanya "Bagaimana kabarmu hari ini ?" Komunikasi emosional digantikan dengan transaksi material; kasih sayang diwujudkan dalam bentuk paket internet yang selalu diperpanjang atau tambahan uang jajan di akhir pekan. Kita jadi terbiasa melihat ayah sebagai entitas yang tidak bisa rusak, sebuah pilar beton yang tidak butuh pelukan, hanya butuh oli berupa kopi hitam dan berita politik di televisi ada tetap bisa beroperasi esok pagi.

Mungkin kita memang lebih nyaman dengan ayah yang berfungsi daripada ayah yang bercerita. Selama mesinnya masih bereru dan asap knalpotnya masih keluar dalam bentuk nafkah yang lancar, kita semua setuju untuk pura-pura tidak melihat baut-baut yang mulai longgar di dalamnya. Lagipula siapayang butuh diskusimendalam tentang kesehatan mental jika taihan listrik sudah lunas. Kita biarkan saja ayah tetap menjadi misteri yang tersimpan dibalik dompet kulitnya yang mulai mengelupas, setidaknya sampai mesin itu benar-benar butuh servis besar yang tidak bisa diselesaikan hanya dnegan tidur siang.

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama