SPESIES TANPA CELAH


Bertemu dengan seseorang yang harga dirinya setinggi menara Burj Khalifa, tapi fondasi logikanya selembek agar-agar yang lupa ditaruh di kulkas. Species seperti ini memiliki sistem imun yang luar biasa terhadap kata "maaf" dan "salah", seolah-olah mengakui kekeliruan kecil saja bisa membuat seluruh eksistensinya terhapus dari sejarah peradaban. Bagi mereka, hidup adalah kompetisi untuk menjadi yang paling tersakiti sekaligus yang paling suci. Jika berdebat dengan mereka, bersiaplah untuk masuk ke dalam loop hole tak berujung di mana kalian adalah penjahat perang, dan mereka adalah pahlawan yang teraniaya oleh kekejaman realitas (baca: logika kalian)

Ada sebuah bakat unik yang dimiliki oleh manusia bebal ini; yaitu kemampuan untuk merendahkan orang lain sambil tetap merasa sebagai korban. Mereka memandang manusia lain seperi NPC (Non-Player Character) dalam video game yang hanya ada untuk melayani narasi kehebatan mereka. Meminta bantuan dianggap sebagai tanda kelemahan, namun ketika mereka gagal, itu pasti kesalahan sistem, konspirasi teman kantor, atau karena posisi planet Merkurius yang sedang tidak selaras -pokoknya bukan karena mereka tidak becus. Menariknya, mereka memiliki alergi akut terhadap kata "maaf"; bagi mereka, meminta maaf itu rasanya seperti menelan pecahan kaca samil telanjang kaki di atas bara api. Lebih baik membangun seribu kebohongan baru daripada harus merobohkan satu tembok kesombongan yang sudah mereka bangun bertahun-tahun.

Spesies tanpa celah: hidup dalam gelembung kesempurnaan yang berisik.

Yang paling ajaib adalah ketika debat mulai memanas. Mereka memiliki tombol "Mode Terzalimi" yang bisa ditekan kapan saja. Tiba-tiba, fakta dan data yang kalian berikan berubah menjadi serangan personal yang sangat melukai jiwa mereka yang sensitif (padahal sebelumnya mereka baru saja menghina silsilah keluarga kalian). Mereka akan mencari pembelaan membabi buta dari siapa pun yang mau mendengar, memutarbalikan narasi sampai mereka terlihat seperti martir yang sedang disalib oleh ketidakadilan. Ini adalah strategi pertahanan tingkat tinggi: karena mereka tidak bisa menang dengan argumen, mereka akan menang dengan manarik simpati lewat drama air mata buaya yang narasinya sudah disusun rapi di kepala mereka yang haus validasi.

Mungkin kita memang harus memberi mereka tepuk tangan sambil berdiri, bukan karena kebenaran mereka, tapi karena dedeikasi mereka yang luar biasa dlaam memelihara delusi. Hidup di atas tahta kesempurnaan versi mereka pasti sangat melelahkan, apalagi harus terus-menerus memastikan tidak ada satu pun cermin di sekitar yang bisa menunjukan betapa berantakannya aseli mereka. Tapi ya sudahlah, biarkan saja mereka tetap merasa menjadi pusat semesta. Pada akhirnya, ketika mereka butuh bantuan dan tidak ada satu pun tangan yang terulur karena semua orang sudah lelah dengan drama mereka, mungkin di saat itulah mereka akan menyadari bahwa menjadi "paling benar" adalah cara paling cepat untuk menjadi "paling sendirian" tul ? 

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama