Kalau lelaki menatap tembok selama sepuluh menit dengan tatapan kosong, lalu saat ditanya "kamu lagi mikirin apa?" dia pasti akan menjawab "engga ada" dengan keyakinan seolah dia baru saja memecahkan kode alam. Ya, kalian sedang menyaksikan sistem operasional default pria. Bagi kebanyakan laki-laki, membicarakan perasaan itu rasanya seperti mencoba mengundah file 100Gb menggunakan sinyal UMTS di tengah hujan angin, terlalu lambat, terlalu rumit, dan ada resiko besar sistemnya balakan crash sebelum selesai. Kita lebih fasih mendebatkan taktik parkir bus antar kota daripada menjelaskan mengapa hati kita terasa seperti kerupuk yang terkena kuah soto.
Masalahnya bukan karena laki-laki tidak punya perasaan; kita punya, tapi kita diajarkan untuk menyimpannya di folder tersembunyi yang diberi nama "file system - jangan dibuka". Sejak kecil standar emasnya adalah menjadi "Batu Karang" -dingin , keras, dan tidak bergerak meskipun dihantam ombak tagihan cicilan atau patah hati. Akibanya, saat sedih atau stres, alih-alih curhat, kita lebih memilih untuk mendadak rajin mencuci motor sampai kinclong atau menghasbikan tiga jam main game, seolah kemenangan di dunia maya bisa membayar trauma di dunia nyata. Berbagi kerentanan seringkali dianggap sebagai penyerahan kedaulatan diri, seolah satu tetes air mata akan menghapus semua sertifikat kejantanan yang pernah kita kumpulkan.
Ironinya, fenomena ini menciptakan komunikasi yang lebih mirip teka-teki silang daripada dialog, kita bisa lewat kode-kode absurd; kopi yang lebih pahit dari biasanya, durasi tidur yang lebih lama, atau mendadak jadi pengamat politik dadakan di grup Whatsapp. Kita merasa bahwa dengan tidak bicara, kita sedang melindungi orang lain dari beban emosional kita, padahal yang terjadi adalah kita sedang membangun benteng sosial yang lama-lama membuat kita merasa seperti alien di rumah sendiri. kita lebih memilih dianggap sombong atau cuek daripada terlihat 'lemah', seolah-olah emosi adalah penyakit menular yang harus dikarantina dalam diam.
Apakah kita akan mulai bicara besok ? mungkin tidak juga. Mungkin kita akan tetap menunggu sampai tekanan di dalam dada cukup kuat untuk meledak dalam bentuk marah-marah karena remote tv hilang. Lagipula siapa yang butuh terapi jika kitamasih bisa meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja hanya denan menghela napas panjang dan menyelakan sebatang rokok, atau memesan kopi susu gula aren yang sediikit terlalu manis ?
Dunia mungkin ingin kita lebih terbuka, tapi selama diam masih dianggap bentuk kekuatan, sepertinya tembok itu tidak akan runtuh dalam waktu dekat.