SAMUDRA MAYA TIDAK AKAN LUPA, TAPI MANTAN MU MUNGKIN


Dunia ini terlalu sempit, lalu memutuskan untuk memperluas penderitaan pribadi kalian ke audiens global yang terdiri dari 5 miliar orang asing ? Ada kepuasan instan yang aneh saat mengetik "capek banget sama drama kantor ini...." di sela-sela isak tangis, seolah-olah tombo 'post' adalah tombol eject dari kenyataan. Kita sering lupa bahwa internet bukan pelukan hangat ibu; internet adalah ruang sidang raksasa di mana semua orang adalah hakim, dan bukti-bukti kebodohan kita tesimpan rapi di dalam server dingin di antah berantah yang siap muncul kembali saat kita sedang melamar kerja atau mencalonkan diri menjadi ketua RT.

Masalah utama dari curhat online adalah kita sering mengira "Close Friends" itu benar-benar berisi teman yang tertutup rapat mulutnya. Padahal dalam ekosistem digital, loyalitas itu hanya sebatas durasi satu kali tangkapan layar. Kita menumpahkan kuah soto emosi kita ke samudra maya, berharap mendapatkan simpati, namun yang kita dapatkan adalah algoritma yang mencatat bahwa kita sedang tidak stabil secara mental dan tiba-tiba, iklan yang muncul di feed kita adalah promo obat penenang atau jasa pengacara perceraian. Sungguh efisiensi kapitalisme yang luar biasa bukan ? kita memberikan data keretakan jiwa kita secara cuma-cuma, sementara perusahaan teknologi menjualnya untuk memastikan kita tetap konsumtif saat sedang depresi.

Belum lagi soal "jejak digital" yang sering dianggap mitos sampai akhirnya HRD perusahaan impianmu menemukan twit kasat yang kamu buat saat masih puber di tahun 2014. Kita hidup di era di mana masa lalu bukan lagi kenanga, melain beban penyimpanan cloud. Setiap keluhan tentang atasan, setiap sindiran untuk mertua, dan setiap foto 'selfie galaw' denan filter hitam-putih adalah bom waktu yang kita pasang sendiri di jalur masa depankita. 

Kita sibuk mengkurasi profil agar terlihat sukses, tapi lupa membersihkan selokan emosi yang kita buang sembarangan di kolom komentar dan status yang kita pikir akan hilang dalam 24 jam.

Jadi, silahkan lanjut mengetik paragraf panjang tentang betapa tidak adilnya semesta ini karena kopi kalian kurang manis pagi ini. Tapi ingat di suatu tempat di masa depan, ada orang yang mungkin akan menertawakan drama ini sambil memegang nasib kariermu di tangan mereka. Atau mungkin tidak ada yang peduli sama sekali, yang sebenarnya jauh lebih menyedihkan bukan ? Lagipula, siapa yang butuh privasi kalau kita bisa mendapatkan sepuluh 'likes' dari orang yang bahkan tidak tahu cara mengeja nama belakang kita dengan benar.

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama