Bisakah kalian makan tanpa memotret piringnya terlebih dahulu, atau apakah makanan itu dianggap tidak ada oleh alam semesta jika tidak masuk story? Mari mencoba eksperimen radikal yang lebih menantang daripada naik gunung tanpa sepatu: Menjadi manusia biasa selama 24 jam. Sebuah kondisi langka di mana kita tidak lagi memvalidasi eksistensi diri melalui jumlah jempol digital, melainkan melalui detak nadi sendiri yang ternyata cukup membosankan jika tidak diiringi musik latar dari TikTok.
Kita telah sampai pada titik peradaban di mana duduk diam di kafe tanpa menggenggam persegi panjang bercahaya dianggap sebagai tanda depresi klinis atau perilaku mencurigakan. Di "dunia luar" yang asing ini, kita dipaksa melakukan hal-hal ekstrem seperti melakukan kontak mata dan mendengarkan orang berbicara tanpa kecepatan 2x. Kita sering lupa bahwa percakapan asli tidak memiliki tombol _mute_ atau opsi untuk memblokir lawan bicara saat argumen mereka mulai tidak masuk akal. Di internet, kita adalah raja di kerajaan algoritma sendiri; di dunia nyata, kita hanyalah sekadar pejalan kaki yang bingung mencari arah karena gengsi bertanya pada warga lokal lebih besar daripada sisa baterai ponsel untuk membuka Maps.
Fenomena ini sebenarnya hanyalah bentuk narsisme baru. Kita pamit dengan pengumuman dramatis seolah-olah sedang mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri, padahal hanya ingin rehat sejenak dari video anak pinguin dan perdebatan politik tanpa ujung. Kita kembali ke masyarakat dengan membawa cerita "pencerahan" tentang betapa segarnya menghirup udara tanpa polusi sinyal, sementara tangan kita tetap bergetar secara hantu (phantom vibration) setiap kali merasa ada notifikasi imajiner. Ini bukan tentang kembali ke alam, ini tentang menyadari bahwa tanpa internet, sebagian besar dari kita tidak tahu cara memesan taksi atau sekadar menghabiskan waktu luang tanpa merasa perlu merasa produktif di mata orang asing.
Mungkin kita memang butuh momen di mana layar itu hitam sepenuhnya, hanya untuk melihat pantulan wajah kita yang sedikit kuyu di permukaannya. Dunia luar memang tidak seindah filter aesthetic dan tidak punya tombol undo untuk setiap kesalahan kata yang terucap. Namun, setidaknya di sini, saat kalian menatap pohon atau tembok rumah, tidak ada iklan pop-up yang tiba-tiba muncul menawarkan kelas investasi kripto di tengah-tengah proses merenung. Jadi, setelah 24 jam ini berakhir, apakah kita benar-benar menjadi manusia baru, atau kita hanya sedang mengumpulkan bahan konten untuk menceritakan betapa "organik"-nya hidup kita selama sehari tanpa koneksi?