SALAH SATU MITOS ITU ADALAH: Privacy


Duduk di toilet dan tiba-tiba merasa bersalah karena tidak menyalakan kamera? Rasanya ada yang kurang jika momen kontemplasi paling sakral manusia tidak dibagikan kepada 14 orang asing dan satu akun bot judi online di TikTok Live. Kita telah sampai pada titik peradaban di mana dinding kamar mandi bukan lagi batas privasi, melainkan sekadar background estetik yang butuh sedikit sentuhan ring light. Jika dinding bisa bicara, mereka mungkin tidak akan curhat, mereka akan bertanya: "Kak, tumpahan air di lantai itu masuk frame nggak? Ganggu estetik, nih."

Dulu, kamar mandi adalah benteng terakhir pertahanan harga diri, tempat kita bisa menjadi diri sendiri tanpa penghakiman. Sekarang? Ia adalah studio produksi 24 jam. Kita melihat orang-orang melakukan skincare routine dengan intensitas seperti ahli bedah saraf, sambil menceritakan trauma masa kecil seolah-olah itu adalah bumbu penyedap untuk jualan serum pencerah. 

"Jadi, waktu ayahku pergi dari rumah... (tap tap layar ya guys!)... aku merasa hancur banget, makanya aku pakai pelembap ini supaya muka nggak ikut hancur." 

Ada disonansi kognitif yang luar biasa ketika air mata kesedihan bersaing dengan filter pipi merona untuk mendapatkan perhatian algoritma.

Fenomena ini bukan sekadar tentang eksibisionisme, tapi tentang bagaimana kita telah mengonversi martabat menjadi mata uang digital. Kita secara sukarela memasang CCTV di area paling privat dalam hidup kita, lalu menyebutnya sebagai "autentisitas". Padahal, jujur saja, tidak ada yang autentik dari menyikat gigi sambil memastikan sudut pengambilan gambar membuat rahang terlihat lebih tirus. Kita tidak lagi memiliki "momen pribadi"; kita hanya memiliki "aset mentah" yang menunggu dikurasi, dipotong, dan diberi musik latar yang trending agar dunia tahu bahwa ya, kita juga mandi—dan kita mandinya pakai produk sponsor.

Mungkin suatu hari nanti, kita akan merindukan masa-masa ketika kita bisa menangis di bawah pancuran air tanpa perlu memikirkan apakah lighting-nya sudah dramatis atau belum. Tapi untuk sekarang, sepertinya privasi hanyalah sebuah konsep kuno yang kalah saing dengan kupon diskon lima belas persen. Lagi pula, apa gunanya memiliki rahasia kalau rahasia itu tidak bisa menghasilkan engagement yang tinggi? Lagian, bukankah kita semua memang suka mengintip kunci pintu yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit demi sepotong validasi dari orang asing?

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama