Damai dengan Diri yang Dulu, Mengapa Menjadi 'NORAK' adalah Sebuah Prestasi


Sejujurnya, ada semacam kesombongan terselubung saat kita menertawakan tulisan tahun 2008 kita yang berantakan itu. Dengan merasa malu, secara tidak sadar kita sedang menepuk bahu sendiri sambil bergumam, "Lihat, gue sekarang sudah jauh lebih pintar." Padahal, si "Gue" versi 2008 yang menulis dengan huruf besar-kecil tidak beraturan itu adalah sosok yang paling jujur; dia tidak peduli pada personal branding, tidak pusing dengan optimasi SEO, apalagi cemas soal engagement rate. Dia hanya ingin menulis karena jempolnya gatal, sebuah kemewahan yang sulit ditemukan di era di mana setiap kata yang kita unggah hari ini sudah dikurasi sedemikian rupa agar terlihat "estetik" dan intelek.

Dunia media sosial zaman sekarang memaksa kita untuk tampil sebagai produk yang sudah jadi, lengkap dengan narasi yang rapi dan visual yang koheren. Kita menjadi takut terlihat bodoh, sehingga setiap draf harus melewati filter logika yang ketat sebelum diterbitkan. Akibatnya, tulisan kita seringkali kehilangan "nyawa" karena terlalu sibuk berusaha menjadi benar. Sementara itu, blog lama kita yang tidak beraturan itu adalah bukti otentik bahwa kreativitas butuh ruang untuk menjadi sampah sebelum menjadi permata. Tanpa fase norak dan gaya penulisan yang berubah-ubah itu, kita mungkin hanya akan menjadi penulis robotik yang membosankan dan terlalu takut untuk bereksperimen.

Maka dari itu, saya memutuskan untuk membiarkan tulisan-tulisan memalukan itu tetap bernapas di sudut internet. Anggap saja itu sebagai pengingat bahwa profesionalisme bukan berarti kehilangan sisi manusiawi yang pernah salah arah. Lagipula, siapa tahu sepuluh tahun lagi, tulisan saya yang sekarang saya anggap "keren" ini juga akan terlihat norak dan memalukan di mata saya yang lebih tua. Menjadi penulis adalah tentang terus-menerus mempermalukan diri sendiri secara progresif, dan sejauh ini, saya rasa saya melakukannya dengan cukup baik.

Apakah kalian juga merasa tulisan kalian saat ini sudah "aman", atau diam-diam kalian rindu masa-masa saat bisa menulis apa saja tanpa beban moral harus terlihat cerdas?

Hatur nuhun...

Lebih baru Lebih lama